BOGOR - Idul Adha adalah salah satu momen besar dalam kalender Islam yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Hari ini dikenal sebagai waktu pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban. Lebih dari sekadar tradisi, Idul Adha menyimpan kisah agung tentang ketaatan dan pengorbanan luar biasa dari keluarga Nabi Ibrahim AS.
Keteladanan dari Seorang Kekasih Allah SWT
Ibadah qurban merupakan warisan dari Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail, sebagai bentuk ujian keimanan. Peristiwa ini bukan hanya menguji keteguhan hati seorang ayah, tetapi juga memperlihatkan kepatuhan luar biasa dari seorang anak.
Nabi Ibrahim diberi gelar "Khalilullah", artinya kekasih Allah, karena keteguhan dan kesabarannya dalam menerima setiap cobaan. Di antaranya adalah saat ia dilempar ke dalam api oleh Raja Namrud. Namun, Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan Ibrahim. Keimanan beliau benar-benar tak tergoyahkan.
Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki ribuan ternak. Ketika ditanya tentang kekayaannya, ia menjawab: “Semuanya milik Allah. Bila Dia meminta, aku serahkan. Bahkan kalau Allah meminta anakku, akan aku berikan.” Kalimat inilah yang menjadi awal dari perintah yang sangat berat: menyembelih Ismail.
Awal Sejarah Idul Adha
HUT ke-80 RI, Pengamat Ari Sumarto Taslim: Menegaskan Kembali Semangat Menuju Indonesia Maju
Nabi Ibrahim menerima mimpi dari Allah yang berulang kali menyuruhnya menyembelih Ismail. Mimpi ini bukan mimpi biasa, melainkan wahyu, karena mimpi para nabi diyakini sebagai bentuk komunikasi langsung dari Allah.
Dengan penuh kebimbangan namun tetap beriman, Ibrahim menceritakan mimpinya kepada Ismail. Betapa terkejutnya kita jika mendengar jawaban anak sekecil Ismail yang menjawab dengan tenang, “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.”
Bayangkan, seorang ayah diminta menyembelih putra yang sangat dicintainya. Tapi, karena keimanan dan keikhlasan, keduanya menerima perintah itu dengan penuh ketundukan. Ini adalah cermin betapa kuatnya keimanan dan rasa percaya pada keputusan Allah SWT.