Dulu, aku selalu berpikir kedewasaan adalah tentang usia, tentang angka yang tertera di kartu identitas. Aku menjalani hidup dengan nyaman, terlindung di bawah payung warisan keluarga, mengira bahwa kesulitan hanyalah kisah fiksi yang terjadi pada orang lain. Kedai kopi kecil peninggalan Ayah adalah zona nyamanku, tempat aku bisa bersembunyi dari hiruk pikuk tanggung jawab nyata.

Namun, kedewasaan datang seperti badai tanpa peringatan. Hari itu, surat pemberitahuan dari bank tiba, merobek ketenangan yang selama ini kubangun. Kedai "Senja Rasa" terancam hilang, bukan karena kesalahanku, melainkan karena utang lama yang tak pernah kusadari. Dalam sekejap, fondasi hidupku runtuh menjadi serpihan.

Kepanikan itu menyesakkan, membuatku ingin melarikan diri, kembali menjadi Risa yang tidak perlu memikirkan tagihan atau nasib orang lain. Aku sempat duduk di lantai dapur selama berjam-jam, membiarkan air mata menjadi satu-satunya jawaban atas kegagalan yang terasa begitu besar dan menghancurkan. Aku menyadari, kegagalan terbesarku bukan pada keuangan, melainkan pada ketidakmauan untuk benar-benar tumbuh.

Titik baliknya datang ketika aku melihat foto Ayah yang tersenyum di balik mesin espresso. Senyum itu seolah bertanya, "Kau akan menyerah sekarang?" Aku menyeka air mata, menyadari bahwa aku tidak bisa membiarkan warisan itu berakhir hanya karena aku takut menghadapi angka-angka menakutkan dan realitas pahit. Aku harus bangkit, bukan demi Ayah, tapi demi harga diriku sendiri.

Perjuangan dimulai. Aku belajar akuntansi dari buku-buku usang, bernegosiasi dengan pemasok yang skeptis, dan bekerja ganda di malam hari hanya untuk menutupi kekurangan kas. Setiap penolakan, setiap pintu yang tertutup di depan wajahku, adalah pelajaran yang jauh lebih berharga daripada semua gelar sarjana yang pernah kuraih.

Aku mulai melihat bahwa seluruh proses yang menyakitkan ini adalah bagian terpenting dari sebuah Novel kehidupan. Aku adalah penulisnya, dan meskipun bab ini terasa gelap dan penuh konflik, aku harus memastikan bahwa aku tidak akan mengakhirinya dengan sebuah tragedi. Rasa sakit dan tekanan adalah tinta yang membentuk karakter sejatiku.

Aku menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi di balik kecerobohan masa mudaku. Kedewasaan ternyata bukan tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu berdiri, membersihkan debu, dan melanjutkan perjalanan, bahkan ketika lutut masih terasa gemetar. Aku belajar bahwa bantuan datang dari tempat yang tak terduga, dari sesama pedagang kecil yang memahami arti perjuangan.

Setelah berbulan-bulan penuh keringat dan air mata, "Senja Rasa" akhirnya dibuka kembali, kini dengan nama baru dan semangat yang berbeda—lebih sederhana, lebih jujur, dan sepenuhnya milikku. Aku berdiri di balik meja kasir, bukan lagi sebagai gadis yang takut pada dunia, tetapi sebagai seorang wanita yang telah diukir oleh kesulitan.

Namun, tantangan belum berakhir. Aku tahu badai lain pasti akan datang. Tapi kini aku siap. Aku tidak lagi takut pada kegelapan, sebab aku telah belajar bahwa di dalam kegelapanlah, kita dipaksa untuk menyalakan cahaya kita sendiri. Apakah cahaya ini akan cukup terang untuk menuntun jalanku selamanya? Aku belum tahu, tetapi aku akan terus menulis bab demi bab, satu perjuangan pada satu waktu.