Surat itu terlipat rapi di sudut meja, lambang janji masa depan yang cerah, tiket menuju kota impian dan jurusan yang telah lama kuincar. Namun, di saat yang sama, telepon dari rumah membawa kabar yang jauh lebih dingin: usaha Ayah goyah, dan kesehatannya memburuk secara mendadak. Kontras antara harapan yang membumbung tinggi dan kenyataan yang menghantam membuat napasku tercekat.

Malam itu, aku tidak tidur. Aku menatap langit-langit kamar kosku, merenungkan pilihan yang terasa mustahil. Meninggalkan segalanya demi ambisi pribadi, atau kembali, merangkul tanggung jawab yang belum pernah kupegang? Rasa bersalah mengalahkan ego, dan fajar menyingsing membawa keputusan yang berat: kampus harus menunggu.

Aku kembali ke rumah, bukan sebagai anak yang dimanja, melainkan sebagai penopang yang rapuh. Aku harus belajar membaca laporan keuangan yang rumit, menghadapi penagih utang yang tak sabar, dan menyusun strategi pemasaran untuk produk yang bahkan tak kupahami sepenuhnya. Dunia perkuliahan yang penuh teori mendadak berganti dengan sekolah kehidupan yang kejam dan praktis.

Awalnya, aku sering menangis diam-diam di gudang belakang toko. Aku merindukan buku-buku tebal dan diskusi filosofis, bukan tumpukan faktur yang membuat kepala pusing. Aku merasa seperti gagal, bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada impian yang telah kubangun bertahun-tahun lamanya.

Namun, perlahan, keberanian tumbuh dari keputusasaan. Setiap negosiasi yang berhasil, setiap sen yang berhasil diselamatkan, terasa seperti babak baru dalam sebuah perjalanan epik. Aku menyadari bahwa semua kesulitan ini adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang disebut Novel kehidupan, di mana karakter utama dipaksa beradaptasi dan bertransformasi.

Aku melihat betapa gigihnya ibuku berjuang di samping Ayah, dan aku belajar bahwa kedewasaan sejati adalah kemampuan untuk berdiri tegak ketika semua orang di sekitarmu mulai tumbang. Aku tidak lagi mencari kebahagiaan dalam pencapaian diri semata, melainkan dalam stabilitas dan senyum yang berhasil kuukir di wajah orang tuaku.

Tahun-tahun berlalu, dan usaha keluarga berhasil bangkit kembali, lebih kuat dan terstruktur. Aku memang kehilangan waktu untuk mengejar gelar impianku, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kepercayaan diri yang ditempa oleh api kesulitan dan pemahaman mendalam tentang nilai pengorbanan.

Aku kini duduk di kantor Ayah, memandangi surat penerimaan kuliahku yang sudah menguning—sebuah relik masa lalu. Aku tidak tahu kapan, atau apakah aku akan kembali mengejar mimpi itu. Tapi satu hal yang pasti, badai yang kuhadapi tidak menghancurkanku; ia mengajariku bahwa menjadi dewasa bukanlah tentang berapa banyak yang kita raih, melainkan berapa banyak beban yang mampu kita pikul dengan senyuman tulus.