Aku selalu membayangkan bahwa kedewasaan adalah sebuah pintu gerbang yang dilewati dengan pesta, setelah menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan impian. Kenyataannya, kedewasaan datang seperti badai, menghancurkan fondasi idealisme yang selama ini aku bangun di atas pasir kenyamanan. Aku adalah seorang pemimpi tanpa peta, hingga tiba-tiba aku dipaksa menjadi nahkoda kapal yang hampir tenggelam.

Momen itu terjadi saat Ayah jatuh sakit, tepat ketika usaha percetakan kecilnya—satu-satunya sumber penghidupan kami—terancam gulung tikar akibat persaingan harga yang brutal. Dalam semalam, tumpukan buku pelajaran kuliahku berganti menjadi tumpukan faktur, surat tagihan, dan daftar gaji karyawan yang harus dibayarkan tepat waktu.

Awalnya, aku marah pada semesta. Aku merasa dicurangi, kehilangan masa muda yang seharusnya aku habiskan untuk bersenang-senang, bukan bergumul dengan angka-angka di pembukuan yang selalu minus. Aku ingin lari, kembali ke masa di mana masalah terbesarku hanyalah memilih film apa yang akan ditonton akhir pekan nanti.

Namun, wajah Ayah yang pucat dan mata para karyawan yang menatapku penuh harap adalah jangkar yang menahan kakiku. Aku harus belajar cepat, dari nol. Aku harus memahami bagaimana mesin cetak bekerja, bagaimana menawar harga tinta, dan yang paling sulit, bagaimana mengatakan "tidak" pada pengeluaran yang tidak perlu.

Setiap kegagalan kecil terasa seperti sayatan tajam, tetapi setiap kali aku berhasil menyeimbangkan neraca bulanan, aku merasakan otot baru tumbuh di jiwaku. Aku menyadari, inilah yang disebut orang sebagai Novel kehidupan, sebuah kisah yang tidak ditulis di atas kertas mewah, melainkan di atas keringat, air mata, dan jam tidur yang hilang.

Aku mulai melihat dunia dengan lensa yang berbeda. Aku tidak lagi melihat orang dewasa sebagai sosok yang serba tahu, melainkan sebagai pejuang yang setiap hari memilih untuk bangkit dari tempat tidur meskipun beban di pundak mereka terasa berat. Empati tumbuh, menggantikan sifat egois yang dulu melekat erat.

Tanggung jawab itu mengajarkanku bahwa keberanian sejati bukanlah saat kita mampu meraih puncak, melainkan saat kita mampu bertahan di dasar jurang tanpa kehilangan harapan. Aku belajar bahwa luka tidak selalu meninggalkan bekas yang buruk; terkadang, luka itu mengukir peta kekuatan baru di dalam diri.

Aku mungkin kehilangan beberapa tahun masa muda yang riang, tetapi sebagai gantinya, aku mendapatkan kedalaman dan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan waktu. Laki-laki yang berdiri di depan cermin sekarang memiliki tatapan yang lebih tegas, tahu persis nilai dari setiap rupiah yang dihasilkan.

Kisah ini belum berakhir; percetakan itu kini mulai stabil, tetapi tantangan baru selalu menunggu di tikungan. Aku tahu, badai berikutnya akan datang. Pertanyaannya, apakah aku sudah cukup kuat untuk menghadapinya, atau apakah aku akan kembali menjadi pemuda yang hanya bisa lari dari kenyataan?