Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah hadiah yang datang otomatis seiring bertambahnya usia, seperti jamur yang tumbuh setelah hujan. Namun, semesta punya cara yang jauh lebih keras untuk mengajariku, memaksa diriku yang masih mentah untuk segera berhadapan dengan badai yang tak terduga. Kenyamanan yang selama ini kurasakan ternyata hanyalah gelembung sabun yang siap pecah kapan saja tersentuh realita.
Titik balik itu datang saat Ayah pergi, meninggalkan bukan hanya duka yang menganga, tetapi juga sebuah warisan toko kelontong tua yang penuh dengan tumpukan utang dan janji yang belum terbayar. Di usia ketika teman-temanku sibuk merencanakan liburan, aku harus belajar membaca laporan keuangan dan menawar harga bahan baku dari pemasok yang tak kenal ampun. Beban itu terasa mencekik, seolah aku dipaksa mengenakan baju zirah yang ukurannya tiga kali lebih besar dari tubuhku.
Awalnya, aku gagal. Beberapa kali aku salah perhitungan, membuat stok barang menumpuk hingga busuk, dan kehilangan kepercayaan dari pelanggan setia Ayah. Rasa malu dan putus asa merayap, membuatku ingin lari dan kembali menjadi Arya yang tidak tahu apa-apa, yang hanya perlu memikirkan kapan waktu makan berikutnya. Aku sering menangis diam-diam di gudang belakang, bertanya mengapa takdir sekejam ini.
Namun, air mata itu perlahan mengering dan meninggalkan endapan berupa tekad yang keras. Aku mulai mengamati setiap detail kecil, mencatat kebiasaan pelanggan, dan tidur hanya empat jam sehari demi menghitung ulang semua inventaris. Aku menyadari bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan hanyalah babak revisi dalam sebuah naskah yang harus terus ditulis.
Aku bertemu dengan Pak Tua pemilik kedai kopi di seberang jalan, yang tatapannya penuh kebijaksanaan dan sarat akan cerita. Ia tidak memberiku uang, melainkan memberiku perspektif. Ia mengatakan bahwa luka adalah peta yang paling jujur, menunjukkan di mana kita pernah jatuh dan seberapa jauh kita harus bangkit kembali.
Pengorbanan pun harus dilakukan. Aku menjual gitar kesayanganku, benda yang selama ini menjadi pelarianku, demi membayar tunggakan sewa. Rasa sakit kehilangan benda berharga itu mengajarkanku arti prioritas; bahwa tanggung jawab jauh lebih berat dan berharga daripada kesenangan sesaat.
Di tengah perjuangan yang sunyi ini, aku menyadari bahwa semua drama, semua air mata, dan semua kebangkitan yang kurasakan adalah esensi dari sebuah Novel kehidupan. Aku adalah tokoh utama yang harus menerima setiap plot twist, betapa pun menyakitkannya, karena setiap halaman yang terisi akan membentuk karakterku menjadi lebih kuat dan lebih berani.
Kini, toko itu memang belum kembali jaya seperti masa Ayah, tetapi ia berdiri tegak, bersih, dan hutang-hutangnya perlahan lunas. Aku bukan lagi Arya yang cengeng dan manja; aku adalah Arya yang memahami arti dari keringat dan pengorbanan. Kedewasaan ternyata adalah proses pahit yang harus dikunyah pelan-pelan, bukan hadiah yang jatuh dari langit.
Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela toko saat senja. Mataku memang terlihat lelah, tetapi di sana ada kedalaman yang tidak pernah kumiliki sebelumnya. Jika suatu hari badai lain datang, aku tahu aku tidak akan lari. Sebab, bagaimana mungkin aku menutup buku ini, sementara babak terbaik tentang kemenanganku baru saja akan dimulai?