Langit senja di kota ini selalu tampak lebih angkuh daripada langit di kampung halaman yang tenang. Aku berdiri di balkon sempit, menatap kerumunan manusia yang seolah tak pernah lelah mengejar ambisi di bawah lampu jalanan.
Dahulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal pertambahan angka usia dan kebebasan finansial yang mutlak. Namun, deru mesin kota ini segera menyadarkanku bahwa realita jauh lebih tajam daripada sekadar mimpi indah di atas kertas.
Kegagalan pertamaku datang tanpa permisi, meruntuhkan semua rencana masa depan yang telah kususun dengan sangat rapi. Di titik terendah itu, aku merasa seperti pemeran utama yang tiba-tiba kehilangan naskahnya di tengah panggung yang riuh.
Malam-malam panjang kuhabiskan dengan meratapi nasib di dalam kamar kos yang mulai terasa pengap oleh ekspektasi. Aku mulai menyadari bahwa air mata tidak akan pernah bisa membayar tagihan bulanan atau mengisi perut yang mulai lapar.
Inilah babak paling sunyi dalam novel kehidupan yang sedang kutulis dengan jemariku sendiri setiap harinya. Aku belajar bahwa kedewasaan justru lahir saat kita berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mengambil kendali penuh atas diri sendiri.
Aku mulai bangun lebih pagi, bukan karena paksaan dari orang lain, melainkan karena tanggung jawab yang mulai berakar. Setiap tetes keringat yang jatuh menjadi saksi bisu bahwa aku bukan lagi remaja yang manja dan selalu menuntut keadaan.
Rasa kecewa itu tetap ada di sudut hati, namun kini ia tak lagi memiliki kuasa untuk menghentikan langkah kakiku. Aku menemukan kekuatan baru dalam setiap penolakan, mengubah rasa sakit menjadi bahan bakar utama untuk terus mendaki.
Ternyata, menjadi dewasa berarti berani memaafkan diri sendiri atas segala keputusan bodoh yang pernah diambil di masa lalu. Aku merangkul luka-luka itu sebagai bagian dari dekorasi jiwa yang membuatnya tampak jauh lebih indah dan kokoh.
Kini aku mengerti bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita mampu sampai ke puncak tertinggi yang kita impikan. Pertanyaannya adalah, apakah kita tetap mampu berdiri tegak saat badai besar mencoba merubuhkan pondasi harapan yang kita miliki?