PORTAL7.CO.ID - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan kenaikan harga barang dan jasa yang cukup signifikan sepanjang periode Februari 2026. Berdasarkan data terbaru, wilayah ini mengalami inflasi sebesar 0,84 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Lonjakan harga pada sejumlah komoditas pangan utama menjadi faktor penentu di balik pergerakan angka inflasi tersebut.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengungkapkan bahwa kelompok bahan makanan menjadi motor utama pendorong laju inflasi kali ini. Komoditas cabai rawit memberikan andil paling besar yakni mencapai 0,35 persen terhadap total inflasi di tingkat daerah. Selain itu, kenaikan harga udang basah serta daging ayam ras turut memperparah kondisi pasar di tingkat konsumen.
Kelangkaan pasokan cabai rawit di pasaran dipicu oleh fenomena gagal panen yang dialami oleh banyak petani lokal. Kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan hasil produksi menurun drastis tepat saat permintaan masyarakat mulai merangkak naik. Situasi ini semakin krusial mengingat momentum menjelang bulan suci Ramadan biasanya memicu tingkat konsumsi yang lebih tinggi. "Kenaikan harga yang sangat tinggi terjadi pada komoditas cabai rawit dan cabai merah karena hasil produksi menurun akibat curah hujan tinggi," ujar Wahyudin. Beliau menambahkan bahwa stok yang menipis di pasar tidak mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan warga yang terus meningkat. Akibatnya, harga di tingkat pedagang merangkak naik secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat.
Selain sektor pangan, inflasi juga dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,21 persen dan sektor transportasi udara. Berakhirnya masa diskon tarif angkutan udara dan laut dari pemerintah pada awal tahun menjadi penyebab utama kenaikan biaya perjalanan. Kenaikan harga kendaraan bermotor juga memberikan andil yang cukup terasa bagi masyarakat di berbagai kabupaten dan kota.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga atau deflasi, seperti ikan teri, bawang merah, dan tomat. Melimpahnya hasil tangkapan nelayan serta kebijakan penurunan harga BBM jenis Pertamax dan Dexlite membantu meredam laju inflasi lebih dalam. Penurunan harga bahan bakar ini memberikan sedikit napas lega bagi mobilitas warga di tengah tekanan kenaikan harga pangan.
Kota Mataram mencatatkan inflasi tertinggi di wilayah NTB dengan angka 0,96 persen, disusul oleh Kota Bima dan Kabupaten Sumbawa. Seluruh wilayah yang dipantau melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) di provinsi ini terpantau mengalami tren kenaikan harga yang cukup seragam. Pemerintah daerah kini diharapkan segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga menjelang perayaan hari besar keagamaan.
Sumber: Infonasional