Aku selalu percaya bahwa peta menuju kedewasaan adalah jalan tol yang mulus, diaspal oleh ambisi dan dihiasi pencapaian gemilang. Dunia bagiku hanya terdiri dari warna hitam dan putih; sukses adalah segalanya, dan kegagalan adalah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat. Keyakinan naif itu membuatku berdiri tegak di atas menara gading yang rapuh.
Namun, menara itu runtuh tanpa peringatan, dihantam badai pengkhianatan dan kerugian yang tak terduga. Kehilangan bukan hanya materi, tetapi juga reputasi yang kubangun susah payah; aku terlempar dari puncak kemewahan menuju lembah kehinaan yang gelap dan dingin. Rasa malu membakar habis sisa-sisa harga diri, membuatku memilih bersembunyi jauh dari sorotan kota yang dulu kucintai.
Dalam pelarian itu, aku mendapati diriku di sebuah desa terpencil, menerima pekerjaan seadanya mengurus sebuah perpustakaan tua yang nyaris roboh. Tempat itu sunyi, jauh dari gemerlap ambisi, dan memaksa aku untuk berinteraksi dengan orang-orang yang hidupnya jauh lebih sederhana dari bayanganku. Aku harus belajar menumbuk kopi sendiri dan berjalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan sinyal telepon.
Awalnya, aku melihat ini sebagai hukuman, sebuah jeda memalukan sebelum aku bisa kembali ke ‘kehidupan nyata’. Aku merasa diriku terlalu besar dan terlalu pintar untuk tugas-tugas kecil yang menuntut kesabaran dan kerendahan hati. Aku merindukan pertemuan penting, bukan percakapan tentang cuaca atau panen padi yang gagal.
Perlahan, melalui tatapan polos anak-anak desa yang haus cerita dan senyum tulus para tetua yang selalu bersyukur, aku mulai melihat keindahan dalam kompleksitas. Aku menyadari bahwa apa yang kualami selama ini adalah babak paling penting dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Di sinilah aku dipaksa untuk mengupas lapisan ego dan melihat diriku yang sebenarnya, tanpa embel-embel gelar atau kekayaan.
Proses pendewasaan ternyata bukan tentang mencapai target, melainkan tentang seberapa baik kita bangkit setelah diinjak-injak oleh kenyataan pahit. Rasa sakit akibat kegagalan itu tidak hilang, tetapi berubah fungsi; ia menjadi kompas yang menuntunku menjauhi kesombongan dan mendekat pada empati. Aku mulai menemukan kedamaian dalam rutinitas yang damai, jauh dari hiruk pikuk kompetisi yang mematikan jiwa.
Aku mulai menggunakan keahlianku untuk membantu desa itu, bukan demi pujian, melainkan karena kebutuhan tulus untuk berkontribusi. Aku bukan lagi Risa yang ambisius dan keras kepala; aku adalah Risa yang kini mengerti arti memberi, bahkan ketika aku sendiri merasa tidak punya apa-apa.
Kini, ketika aku melihat kembali Risa yang dulu, aku melihat sosok yang sangat asing, terperangkap dalam definisi sukses yang sempit. Reruntuhan itu ternyata bukan akhir, melainkan fondasi baru yang jauh lebih kokoh, dibangun di atas kerendahan hati dan pemahaman bahwa hidup selalu mengalir.
Apakah aku akan kembali ke kota? Entahlah. Yang pasti, bekas luka di jiwaku adalah ukiran terindah yang membuktikan bahwa aku pernah jatuh, dan yang lebih penting, aku telah belajar untuk berdiri lagi, membawa bekal kebijaksanaan yang tak ternilai harganya.