Aku selalu berpikir bahwa kanvas adalah satu-satunya medan pertempuran yang harus aku taklukkan. Sebagai mahasiswi seni di kota besar, aku terbiasa dengan kebebasan, menganggap tanggung jawab finansial hanyalah urusan orang dewasa yang jauh. Namun, telepon larut malam itu merobek ilusi kenyamanan yang selama ini kurajut.
Ayah sakit. Bisnis kerajinan kayu yang menjadi nadi keluarga kami di ambang kehancuran, tercekik utang dan manajemen yang kacau. Aku terpaksa meninggalkan studio dan palet, kembali ke rumah yang kini terasa asing, dipenuhi bau serbuk kayu dan kecemasan yang pekat.
Ketika aku melihat tumpukan tagihan yang menggunung di meja kerja Ayah, rasa panik itu hampir membuatku lumpuh. Aku tidak tahu apa-apa tentang bahan baku, negosiasi harga, apalagi memimpin belasan karyawan yang kini menggantungkan harapan padaku. Ini adalah beban yang jauh lebih berat daripada yang pernah aku bayangkan.
Malam-malamku kini dihabiskan untuk mempelajari buku besar yang berdebu, mencoba memahami siklus produksi yang rumit. Rasa frustrasi seringkali memuncak, membuatku ingin menyerah dan kembali ke kehidupan lamaku yang ringan. Namun, tatapan Ayah yang lemah, penuh permohonan, selalu menahanku.
Aku mulai turun langsung ke bengkel, tanganku yang terbiasa memegang kuas kini harus berhadapan dengan amplas kasar dan mesin pemotong. Aku belajar mendengarkan keluh kesah para pengrajin, memahami bahwa setiap pahatan kayu bukan sekadar produk, melainkan napas kehidupan banyak keluarga. Aku menemukan kekuatan yang tak kusangka ada di dalam diriku.
Proses ini, pahit dan melelahkan, adalah babak paling esensial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Di tengah tumpukan serbuk kayu, aku tidak hanya mencoba menyelamatkan bisnis Ayah, tetapi juga menyelamatkan diriku sendiri dari kebodohan dan keengganan untuk bertumbuh. Kedewasaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari pertempuran yang kita menangkan.
Perlahan, kami berhasil mendapatkan kontrak kecil, hasil dari negosiasi yang keras dan desain baru yang aku adaptasi dari sketsa seniku. Angka di buku kas mulai bergerak naik, walau masih jauh dari kata aman. Kemenangan kecil itu terasa manis, bukan karena uangnya, tetapi karena ia membuktikan bahwa aku mampu berdiri tegak.
Aku menyadari, pengalaman ini telah mengubah fokusku dari mencari kesenangan semata menjadi mencari makna. Rasa sakit karena harus mengambil alih tanggung jawab besar di usia muda telah mengasah jiwa dan mentalku menjadi baja yang tak mudah patah. Kehilangan kemudahan adalah harga yang harus dibayar untuk menemukan kekuatan sejati.
Bisnis ini mungkin belum sepenuhnya pulih, dan Ayah masih dalam masa pemulihan. Tapi saat aku berdiri di tengah bengkel yang ramai, memimpin rapat pagi, aku tahu bahwa Risa yang dulu telah mati. Risa yang sekarang, yang matanya penuh ketegasan dan tangannya penuh kapalan, siap menghadapi badai apa pun yang akan datang, karena ia telah menemukan harta karun terbesarnya: dirinya sendiri yang dewasa.