Aroma kopi robusta yang biasanya menenangkan kini terasa mencekik. Aruna, yang selalu membayangkan dirinya berada di galeri seni di ibu kota, tiba-tiba harus berhadapan dengan tumpukan nota dan wajah-wajah murung para karyawan Kopi Senja. Itu adalah transisi paling brutal yang pernah ia alami; dari gadis yang hanya memikirkan sketsa, menjadi manajer dadakan yang harus menyelamatkan warisan ayah.
Ayah terbaring lemah, dan Kopi Senja, yang menjadi jantung keluarga kami selama dua dekade, ternyata menyimpan luka finansial yang dalam. Aku selalu menganggap kedai kopi itu berjalan otomatis, sebuah mesin penghasil uang yang stabil. Namun, ketika aku harus membuka laci kas dan melihat angka-angka merah, aku sadar bahwa kemewahan untuk bersikap naif telah dicabut dariku.
Minggu-minggu pertama adalah neraka. Aku tidak tahu cara membedakan biji arabika terbaik, apalagi menegosiasikan harga sewa. Aku sering menangis di gudang saat malam tiba, merasa gagal dan merindukan kebebasan yang hilang. Para pelanggan setia melihatku dengan tatapan kasihan, sementara beberapa pemasok mulai menagih dengan nada yang tidak sabar.
Titik balik itu datang saat aku menemukan buku harian lama Ayah. Di sana, ia menuliskan bagaimana ia membangun Kopi Senja dari nol, bukan hanya sebagai bisnis, tetapi sebagai tempat berteduh bagi banyak orang di lingkungan ini. Aku menyadari, ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang menjaga sebuah janji dan martabat.
Aku memutuskan untuk menunda beasiswa yang sudah kuterima. Aku mulai belajar. Akuntansi, manajemen stok, bahkan cara meracik kopi yang sempurna dari nol. Aku mengurangi tidur dan menambah jam kerja, mendengarkan keluhan pelanggan dengan sabar, dan menghadapi para penagih utang dengan kepala tegak meski lututku gemetar.
Setiap kesalahan yang kubuat—mulai dari salah hitung laba hingga kopi yang tumpah—menjadi pelajaran yang dipahat keras dalam ingatanku. Aku belajar bahwa kedewasaan bukanlah soal usia, melainkan seberapa besar beban tanggung jawab yang mampu kau pikul tanpa menyerah. Inilah babak paling menantang dalam Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri.
Perlahan, keadaan mulai membaik. Kopi Senja tidak lagi terancam tutup. Bahkan, aku memperkenalkan menu baru yang kuresapi dari resep kuno Nenek, dan itu berhasil menarik generasi muda kembali. Aku mulai menemukan kepuasan yang berbeda, kepuasan yang tidak pernah kutemukan saat memegang kuas; kepuasan karena telah menjadi tiang.
Aku bukan lagi Aruna yang dulu, yang mudah mengeluh dan lari dari masalah. Wajahku kini dihiasi lingkaran hitam karena kurang tidur, tetapi mataku memancarkan ketegasan yang tak pernah ada sebelumnya. Aku belajar bahwa impian sejati bukan hanya yang kita kejar, tetapi juga yang kita pertahankan demi orang-orang yang kita cintai.
Namun, tantangan terbesar belum usai. Meskipun Kopi Senja stabil, Ayah masih harus menjalani operasi mahal. Saat aku menatap ke langit malam, menghitung kembali sisa tabungan dan memikirkan masa depan, aku tahu bahwa kisah ini baru saja mencapai klimaksnya, dan aku harus siap mengorbankan apa pun demi akhir yang bahagia.