Dahulu, dunia terasa seperti kanvas tak terbatas tempat aku bebas menuangkan setiap imajinasi liar. Aku hidup dalam gemerlap mimpi, meyakini bahwa bakat dan semangat muda adalah modal tunggal menuju kesuksesan abadi, tanpa perlu mencemaskan kerikil tajam di bawah kaki. Segala sesuatu tampak mudah, seolah takdir telah menjamin jalanku akan selalu lurus dan mulus.
Namun, semesta punya cara brutal untuk menghentikan laju euforia itu. Sebuah badai tak terduga menerpa, memaksaku menukar kuas dan palet dengan tumpukan laporan keuangan dan tanggung jawab yang terasa asing. Tiba-tiba, aku harus berdiri di garis depan, menjaga agar warisan keluarga yang rapuh tidak roboh diterpa krisis.
Awalnya, aku memberontak. Aku merasa dicabut paksa dari masa depan yang telah kubangun, terperangkap dalam labirin yang penuh dengan angka-angka dingin dan tuntutan realistis. Aku mencoba menerapkan teori-teori canggih yang pernah kubaca, tetapi kenyataan di lapangan jauh lebih kejam dan kompleks daripada rumus manapun.
Kegagalan demi kegagalan mulai menghantam, meruntuhkan benteng kesombongan yang selama ini kujaga. Ada malam-malam panjang di mana aku hanya menatap langit-langit, bertanya-tanya mengapa beban ini harus ditimpakan padaku, seorang pemimpi yang belum selesai. Rasanya ingin menyerah, kembali ke zona nyaman yang dulu begitu kurindukan.
Titik baliknya datang bukan dari keberhasilan besar, melainkan dari keheningan saat aku melihat para pekerja yang menggantungkan hidup pada keputusan-keputusanku. Aku menyadari bahwa kedewasaan bukan soal usia yang tertera di kartu identitas, melainkan kesediaan untuk menelan ego dan bertanggung jawab atas konsekuensi yang kita ciptakan.
Aku mulai belajar dari nol, mendengarkan kritik dengan kepala tertunduk, dan mengakui bahwa aku tidak tahu apa-apa. Perlahan, aku menemukan kekuatan baru dalam kesabaran dan ketekunan yang membosankan—sebuah kekuatan yang jauh lebih solid daripada sekadar bakat.
Masa-masa sulit itu adalah sekolah terbaik. Di sana, aku tidak hanya belajar tentang bisnis, tetapi juga tentang empati, pengorbanan, dan arti sejati dari perjuangan. Aku baru menyadari bahwa aku sedang membaca babak paling penting dan paling jujur dari Novel kehidupan yang selama ini kupikir hanya berisi kisah-kisah indah.
Kini, meski jalan masih berliku, aku berjalan dengan langkah yang lebih mantap. Bekas luka yang dulu terasa memalukan kini menjadi peta yang menunjukkan sejauh mana aku telah berjuang dan berubah. Aku tidak lagi mencari kesempurnaan, tetapi mencari makna di setiap proses yang harus dilewati.
Kedewasaan mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi selalu memberikan apa yang kita butuhkan untuk tumbuh. Apakah aku sudah berhasil menyelamatkan semuanya? Belum. Tetapi, setidaknya, aku telah menyelamatkan diriku sendiri dari kebodohan masa muda yang terlalu angkuh.