Dulu, hidupku adalah kanvas kosong yang siap kuwarnai dengan spektrum impian paling liar. Aku menghabiskan hari-hari merenungi komposisi warna, mengabaikan tumpukan tagihan dan kekhawatiran nyata yang selalu menggerogoti Ayah di balik meja kasir toko buku tua kami. Kedewasaan hanyalah konsep abstrak, sebuah garis finish yang terasa sangat jauh.

Namun, semesta punya cara kejam untuk menarik kita keluar dari zona nyaman. Ketika Ayah mendadak terbaring lemah, dunia yang kukenal ambruk, dan aku dipaksa mengenakan jubah tanggung jawab yang terasa tiga kali lebih besar dari badanku. Aku, seorang seniman yang hanya tahu cara melukis awan, kini harus menghitung inventaris dan menghadapi wajah-wajah penagih utang yang dingin.

Toko buku itu, yang selalu kuanggap sebagai gudang berdebu, tiba-tiba menjadi medan perangku. Aku merindukan bau cat minyak, tetapi yang kudapatkan hanyalah aroma kertas tua yang lembap dan keputusasaan yang samar. Setiap pagi adalah perjuangan melawan keinginan untuk lari, kembali ke masa di mana satu-satunya masalahku adalah mencari inspirasi.

Aku membuat kesalahan—kesalahan besar yang hampir membuat kami kehilangan pemasok utama. Rasa malu dan takut itu menghantamku lebih keras daripada kritik seni mana pun yang pernah kuterima. Saat itulah aku menyadari bahwa kegagalan di dunia nyata jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan di atas kertas.

Di tengah kekacauan itu, aku mulai membaca buku-buku yang Ayah simpan di rak tersembunyi, mencari petunjuk, mencari kekuatan. Aku menemukan kisah-kisah tentang ketahanan, pengorbanan, dan penerimaan. Aku sadar, kisah yang sedang kujalani ini adalah bagian dari sebuah siklus abadi, sebuah Novel kehidupan yang harus dihadapi semua orang, tanpa terkecuali.

Perlahan, aku mulai menerapkan kreativitas seniku pada manajemen. Aku menata ulang toko, membuat sudut baca yang lebih menarik, dan belajar berbicara dengan mata air yang tulus kepada pelanggan setia Ayah. Aku tidak lagi melihat tanggung jawab sebagai beban, melainkan sebagai komposisi baru yang harus kuselesaikan dengan detail.

Toko itu tidak menjadi kaya raya dalam semalam, tetapi perlahan, ia bernapas kembali. Aku belajar bahwa kedewasaan bukanlah tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang keberanian untuk terus bertanya dan belajar dari setiap luka. Aku menemukan keindahan yang berbeda dalam kestabilan, sebuah palet warna baru yang diciptakan oleh ketekunan.

Ketika Ayah akhirnya bisa duduk di meja kasir lagi, matanya yang teduh menatapku dengan kebanggaan yang tak terucapkan. Aku bukan lagi Arga si pemimpi, tetapi Arga si pemikul—seseorang yang telah memahami bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk berdiri tegak saat badai menerpa.

Kini, toko itu aman, tetapi jiwaku gelisah. Aku telah menyelamatkan warisan Ayah, namun bagaimana dengan impianku sendiri yang selama ini tertunda? Apakah kedewasaan berarti mengubur ambisi, atau justru menemukan cara untuk melukis sambil tetap menjaga api tetap menyala di rumah yang telah kuperjuangkan ini?