Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah hadiah yang didapatkan setelah mencapai puncak kesuksesan, setelah tepuk tangan meriah dan pengakuan publik. Dengan keyakinan itu, aku membangun menara ambisi yang tinggi, tanpa pernah memikirkan betapa rapuhnya fondasi yang kubuat. Aku adalah Letta, dan saat itu, aku adalah definisi dari arogansi yang terselubung optimisme.

Proyek seni terbesar dalam hidupku, pameran tunggal yang telah kurancang selama berbulan-bulan, seharusnya menjadi mahkota kemenanganku. Aku menginvestasikan segalanya: waktu, uang, dan seluruh harga diriku. Aku mengabaikan peringatan kecil, menertawakan keraguan orang lain, yakin bahwa visiku sudah sempurna dan tak tersentuh kegagalan.

Namun, semesta memiliki rencana yang lebih keras. Di malam pembukaan yang seharusnya gemerlap, sebuah insiden teknis yang konyol meruntuhkan instalasi sentral karyaku. Bukan hanya karyaku yang hancur, tetapi juga seluruh keyakinan yang selama ini kupegang teguh; aku jatuh, bukan hanya secara fisik, tetapi jiwa dan raga.

Rasa malu itu terasa seperti belenggu es yang membekukan darahku. Selama berminggu-minggu, aku mengurung diri, hanya ditemani oleh keheningan dan puing-puing mimpi yang berserakan di benakku. Aku bertanya-tanya, mengapa kegagalan ini harus datang ketika aku sudah sangat dekat dengan impian.

Perlahan, melalui keheningan yang menyiksa itu, aku mulai mendengar suara-suara lain—bukan suara pujian, melainkan suara hati yang selama ini teredam oleh hiruk pikuk ambisi. Aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar mendengarkan orang lain, apalagi diriku sendiri; aku hanya sibuk mengejar citra yang sempurna.

Di titik terendah itulah aku menemukan kebenaran yang pahit sekaligus membebaskan: Ternyata, kedewasaan bukanlah babak akhir yang manis, melainkan penerimaan bahwa setiap halaman yang robek adalah bagian penting dari novel kehidupan yang harus kita tulis sendiri. Bekas luka ini adalah tinta yang jauh lebih jujur daripada kemewahan.

Aku mulai membangun kembali, bukan menara ambisi yang tinggi, tetapi sebuah rumah kecil yang kokoh di dalam diriku. Prosesnya lambat, melibatkan penyesalan, permintaan maaf, dan yang terpenting, kesabaran terhadap proses yang tidak instan. Aku belajar bahwa resiliensi sejati tidak terletak pada seberapa cepat kita bangkit, tetapi seberapa tulus kita menerima kerapuhan diri.

Letta yang sekarang jauh berbeda dari Letta yang dulu. Aku tidak lagi takut pada kegagalan; sebaliknya, aku menghargainya sebagai guru paling jujur yang pernah kumiliki. Kehilangan segalanya justru memberiku ruang untuk menemukan apa yang benar-benar penting, apa yang tak bisa dibeli oleh tepuk tangan.

Dan kini, aku melihat ke belakang pada puing-puing itu dengan rasa terima kasih yang mendalam. Jika kegagalan itu tidak meruntuhkanku, aku mungkin tidak akan pernah tahu cara berdiri dengan kaki sendiri. Lalu, apa yang akan terjadi ketika babak baru ini menuntut pengorbanan yang lebih besar lagi?