PORTAL7.CO.ID - Kondisi internal Real Madrid dilaporkan berada dalam situasi yang sangat genting menjelang pertandingan penting El Clasico melawan rival abadi mereka, Barcelona. Duel yang dijadwalkan pada Minggu, 10 Mei 2026, ini akan menentukan nasib perburuan gelar juara LaLiga musim ini.
Insiden yang mengalihkan fokus tim Los Blancos adalah investigasi internal yang dipicu oleh kekerasan fisik antara dua pemain kunci mereka. Pertikaian tersebut melibatkan Aurélien Tchouaméni dan Federico Valverde, yang bermula di sesi latihan klub.
Perselisihan antar pemain tersebut disebut-sebut tidak berhenti di lapangan latihan, melainkan berlanjut hingga ke ruang ganti pemain. Akibat dari perkelahian ini, Federico Valverde dilaporkan harus dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.
Pemeriksaan medis tersebut dilakukan sesuai protokol standar setelah Valverde mengalami benturan di bagian kepala dalam insiden perkelahian tersebut, yang menjadi perhatian serius manajemen klub.
Dilansir dari Clarosports, kejadian ini dianggap sebagai refleksi dari hilangnya kendali staf pelatih terhadap para pemain yang sudah mulai terpecah belah sejak tahun 2024. Situasi ini menambah tekanan pada tim menjelang akhir musim.
Krisis ini terjadi ketika Real Madrid menghadapi risiko mengakhiri musim tanpa meraih satu pun trofi bergengsi untuk dua tahun berturut-turut. Situasi ini mengingatkan pada periode kelam klub antara tahun 2004 hingga 2006.
Beban Real Madrid semakin berat karena posisi Barcelona yang saat ini memimpin klasemen dengan koleksi 88 poin. Klub Catalan hanya memerlukan hasil imbang di Camp Nou untuk secara resmi mengunci gelar juara LaLiga di hadapan pendukungnya sendiri.
Salah satu faktor yang dianalisis sebagai penyebab memudarnya disiplin adalah hilangnya figur kepemimpinan kuat seperti Nacho, Toni Kroos, dan Luka Modric dari skuat utama. Hal ini dipercaya mengurangi komitmen dan disiplin dalam tim.
Otoritas pelatih Álvaro Arbeloa dikabarkan mulai tidak lagi disegani oleh para pemain. Beberapa pemain disebut mulai berani mempertanyakan keputusan-keputusan teknis yang diambil oleh sang pelatih di tengah situasi yang kurang kondusif.