PORTAL7.CO.ID - Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis diesel nonsubsidi di wilayah Jakarta kini dilaporkan telah mencapai angka signifikan, memicu kenaikan biaya operasional bagi para pengguna kendaraan pribadi. Kenaikan ini memaksa pemilik mobil diesel kelas menengah ke atas untuk mencari strategi baru dalam mengelola anggaran mobilitas harian mereka.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa harga BBM diesel nonsubsidi telah melampaui Rp26.000 per liter di beberapa SPBU. Hal ini menyebabkan pembengkakan pengeluaran yang substansial bagi mereka yang mengandalkan kendaraan berbahan bakar diesel untuk mobilitas rutin mereka.
Dilansir dari Detik Oto, kenaikan harga ini membuat biaya pengisian penuh tangki bahan bakar mengalami peningkatan drastis, bahkan ada yang menyebutkan kenaikan hingga tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan beban finansial ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang bergantung pada energi fosil ini.
Data harga terbaru menunjukkan variasi harga yang cukup mencolok; Dexlite terpantau di kisaran Rp26.000 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai Rp27.900 per liter. Di sektor swasta, BP Ultimate Diesel mematok harga Rp29.890 per liter, dan VIVO menjual Diesel Primus seharga Rp30.890 per liter.
May, seorang warga Jakarta berusia 68 tahun yang sehari-hari menggunakan Mitsubishi Pajero Sport untuk aktivitasnya, merasakan dampak kenaikan harga Dexlite yang cukup membebani keuangan rumah tangganya. Sebelum penyesuaian harga, biaya pengisian penuh tangkinya jauh lebih ringan dibandingkan saat ini.
"Luar biasa mahalnya, naiknya sampai dua kali lipat. Dulu Rp 500 ribu tuh udah full tank, sekarang full tank harus Rp 1,5 juta," ujar May, menyoroti betapa besarnya lonjakan biaya yang harus ditanggung.
Meskipun dihadapkan pada biaya operasional yang semakin berat, May menegaskan bahwa ia tidak memiliki niat untuk mengganti kendaraannya atau beralih ke bahan bakar bersubsidi. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran serius terhadap potensi kerusakan mesin jika menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi mobilnya.
"Takutnya mesinnya rusak kalau ke biosolar atau Pertalite, takutnya enggak cocok. Mau ganti mobil apaan? Sayang itu mobilnya mau diapain? Ya udah pasrah aja," kata May, menunjukkan dilema antara biaya dan pemeliharaan aset.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Ari, seorang pekerja yang rutin melakukan perjalanan dari Jakarta Selatan menuju Bintaro menggunakan Toyota Innova diesel tahun 2019. Ia merasa keberatan dengan kenaikan harga yang hampir mencapai 100 persen.