PORTAL7.CO.ID - Tim Nasional Futsal Indonesia berhasil mengukir sejarah baru setelah meraih hasil impresif di ajang Piala Asia Futsal 2026. Prestasi ini langsung berdampak signifikan pada peringkat dunia mereka dalam rilis terbaru FIFA.
Pada Jumat (8/5), secara resmi Timnas Futsal Indonesia melesat naik 10 anak tangga, menempati posisi ke-14 dalam ranking FIFA dunia. Capaian ini merupakan rekor tertinggi yang pernah diraih oleh Skuad Garuda di kancah futsal internasional.
Sebelum turnamen bergengsi tersebut, Indonesia masih bertengger di peringkat ke-24 dunia, namun penampilan heroik hingga babak final mengubah segalanya. Meski kalah adu penalti dari Iran di final, prestasi tersebut mendongkrak poin mereka menjadi 1269.82 poin.
Kenaikan peringkat ini juga menempatkan Indonesia sebagai tim futsal terbaik keempat di wilayah Asia. Hasil ini menjadi validasi atas kerja keras tim asuhan pelatih asal Spanyol, Hector Souto, selama persiapan dan pelaksanaan kompetisi.
Dilansir dari Detikcom, Hector Souto menyampaikan apresiasi tinggi atas progres yang dicapai anak asuhnya. Dalam unggahan media sosialnya pada Sabtu (9/5/2026), ia menekankan bahwa ini adalah pengakuan atas kekuatan futsal Indonesia.
Hector Souto menegaskan pencapaian ini sebagai bukti nyata ketangguhan futsal nasional di mata dunia. "Masih adakah yang meragukan kekuatan futsal Indonesia? Hari ini kita mencapai peringkat 14 dunia di Ranking FIFA. Sebuah pencapaian bersejarah bagi negara dan olahraga ini," tulis Hector Souto, Pelatih Timnas Futsal Indonesia.
Meskipun bangga dengan angka fantastis tersebut, Hector Souto memberikan pandangan kritis mengenai pentingnya peringkat dunia. Ia berpendapat bahwa angka statistik terkadang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.
"Sejujurnya, ranking bukanlah hal yang paling penting bagi saya. Terkadang ranking bersifat artifisial dan tidak selalu mencerminkan realitas sepenuhnya. Tetapi angka itu ada di sana, dan kita harus bangga dengan apa yang diwakilinya," lanjut Hector Souto, Pelatih Timnas Futsal Indonesia.
Kritik utama yang diutarakan Hector Souto merujuk pada minimnya struktur pembinaan dan kompetisi domestik yang mapan di Indonesia. Ia menyoroti bahwa kemajuan ini diraih tanpa adanya sistem pengembangan talenta yang terstruktur secara nasional.