Kondisi hidrologi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kini tengah menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Pada Selasa (24/2/2026) pagi, Bendung Lekopancing secara resmi dinyatakan masuk dalam kategori status waspada. Pihak berwenang mencatat adanya kenaikan debit air yang dipicu oleh intensitas hujan ringan di wilayah tersebut.

Berdasarkan data terbaru dari Posko Induk Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWS-PJ), Tinggi Muka Air (TMA) terpantau mencapai angka 90 centimeter. Pengukuran yang dilakukan pada pukul 08.00 Wita ini menunjukkan posisi air sudah berada tepat di atas mercu bendung. Situasi ini memerlukan pengawasan ketat untuk mengantisipasi potensi luapan air yang lebih besar ke area sekitar.

Sistem peringatan dini di Bendung Lekopancing sendiri terbagi ke dalam empat kategori utama berdasarkan ketinggian airnya. Level normal berada pada kisaran 0 hingga 50 cm, sementara status waspada ditetapkan jika air menyentuh angka 50 sampai 100 cm. Apabila menyentuh angka 100 hingga 200 cm maka akan masuk status siaga, dan kategori awas berlaku jika melampaui 200 cm.

Sebelum kenaikan di Maros ini terjadi, wilayah Makassar sebenarnya telah lebih dulu menghadapi tantangan cuaca ekstrem pada Sabtu (21/2). Puncak pasang air laut yang terjadi pada sore hingga petang memicu kekhawatiran akan terjadinya banjir rob. Kondisi alam tersebut berpotensi menyebabkan genangan air meluap hingga ke badan jalan di sejumlah titik pemukiman warga.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Satgas Drainase Dinas PU Makassar, Ronny Narra, mengonfirmasi adanya kenaikan air di sekitar area kanal. Beberapa wilayah, termasuk kawasan kanal Banta-bantaeng, mulai terdampak oleh fenomena pasang air laut tersebut secara langsung. Tim teknis segera diterjunkan ke lapangan guna melakukan mitigasi di tengah kondisi hujan dan pasang yang tinggi.

Ronny menjelaskan bahwa kendala utama di lapangan bukanlah penyumbatan saluran, melainkan volume kanal yang sudah mencapai batas maksimal. Fenomena pasang air laut membuat air dari sistem drainase perkotaan tidak memiliki ruang untuk mengalir menuju kanal maupun laut. "Jadi bukan karena drainase tersumbat tapi karena kanal full karena pasang air laut," ungkap Ronny memberikan klarifikasi teknis.

Hingga saat ini, koordinasi antar instansi terus diperkuat untuk memantau pergerakan debit air di Bendung Lekopancing dan wilayah hilir lainnya. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap perubahan cuaca yang mungkin terjadi secara mendadak. Pengelolaan pintu air dan optimalisasi saluran drainase menjadi prioritas utama demi mencegah dampak luapan yang lebih luas bagi warga.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/bendung-lekopancing-maros-status-waspada