PORTAL7.CO.ID - Tottenham Hotspur secara resmi mengumumkan pengakhiran kerja sama dengan pelatih kepala Igor Tudor pada hari Minggu kemarin. Keputusan mengejutkan ini diambil setelah Tudor hanya mampu memimpin tim dalam tujuh pertandingan di berbagai ajang.
Keputusan pemecatan ini terbit di tengah perjuangan keras Spurs untuk menjauh dari ancaman zona degradasi Liga Inggris. Situasi klub yang kian merosot menjadi pemicu utama manajemen mengambil langkah drastis ini.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan kesepakatan bersama antara klub dan sang pelatih, dilansir dari beinsports.com. Selama masa jabatannya yang singkat, Tudor telah menelan lima kekalahan yang dampaknya signifikan bagi performa tim.
Dampak dari serangkaian kekalahan tersebut termasuk tersingkirnya Tottenham dari kompetisi Liga Champions. Selain itu, Spurs kini harus berjuang keras karena tertahan di posisi yang sangat kritis pada klasemen liga domestik.
Klub yang berbasis di London Utara tersebut saat ini hanya berjarak satu poin saja dari zona merah degradasi Premier League. Ancaman kembali ke divisi kedua menjadi bayangan serius bagi Spurs yang baru saja menjuarai Liga Europa musim sebelumnya.
Igor Tudor sendiri tidak hadir dalam sesi konferensi pers pasca kekalahan telak 3-0 dari Nottingham Forest pekan lalu. Hal ini disebabkan oleh kabar duka atas meninggalnya ayah Tudor yang terjadi sesaat setelah pertandingan berakhir.
Manajemen Tottenham Hotspur mengonfirmasi kabar pemisahan ini melalui pernyataan resmi mereka. "Kami mengonfirmasi bahwa telah disepakati bersama bagi pelatih kepala Igor Tudor untuk meninggalkan klub dengan efek segera," bunyi pernyataan resmi tersebut.
Pihak klub juga turut menyampaikan rasa empati mereka terhadap situasi pribadi yang dialami oleh sang pelatih. "Kami mengakui masa berkabung yang dialami Igor dan mengirimkan dukungan bagi dirinya serta keluarga di masa sulit ini," tambah pernyataan klub.
Mantan juru taktik Juventus tersebut ditunjuk pada Februari 2026 untuk menggantikan Thomas Frank. Namun, pria asal Kroasia itu gagal membalikkan tren negatif yang mengancam Spurs dengan risiko degradasi pertama sejak tahun 1977.