PORTAL7.CO.ID - Perayaan Hari Raya Nyepi yang bersamaan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, berjalan dalam bingkai harmoni yang terjaga erat. Kondisi ini menunjukkan kedewasaan komunal warga setempat dalam merayakan perbedaan keyakinan.
Kehidupan sosial di Desa Balun memang dikenal sangat majemuk, menjadikan momen pertemuan dua hari besar keagamaan ini bukan menjadi sumber konflik, melainkan penguatan solidaritas. Keberagaman telah menjadi napas sehari-hari bagi masyarakat di desa yang dijuluki "Desa Pancasila" ini.
Wisnu Adi Pramono, salah satu pemuda Hindu dari Desa Balun, menegaskan bahwa perbedaan jadwal peribadatan tidak pernah menimbulkan isu sensitif di kalangan warga. Hal ini disebabkan oleh tingginya rasa saling menghargai antarumat beragama di sana.
"Di sini toleransi sangat tinggi. Kami tidak pernah mempermasalahkan ibadah masing-masing. Jika umat Muslim takbiran keliling, silakan, kami yang sedang Nyepi tetap menjalankan ibadah kami," kata Wisnu pada hari Selasa, menegaskan prinsip hidup berdampingan secara damai.
Pihak desa telah mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan koordinasi intensif antara pengurus pura, takmir masjid, dan tokoh agama lainnya. Tujuannya adalah memastikan kondusivitas total selama kedua perayaan berlangsung serentak.
Sementara umat Muslim fokus pada takbir, warga Hindu Balun tengah mematangkan persiapan tradisi pawai ogoh-ogoh yang menjadi puncak rangkaian Nyepi. Sebanyak enam ogoh-ogoh berukuran monumental dijadwalkan akan ditampilkan di area utama Alun-alun desa.
Proses pembuatan mahakarya seni budaya tersebut diklaim telah mencapai tahap penyelesaian sekitar 85 persen, meskipun waktu pengerjaan relatif singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Warga optimis penyelesaian akan tepat waktu untuk pawai yang akan digelar besok.
"Tahun ini pengerjaannya hanya sekitar satu bulan, biasanya tiga sampai empat bulan. Namun kami optimistis bisa tuntas untuk pawai besok," ujar Wisnu, menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi dalam komunitas.
Menariknya, pembuatan ogoh-ogoh ini melibatkan partisipasi aktif dari warga lintas agama, termasuk dukungan dari umat Muslim dan Kristen, khususnya pada fase awal yang menuntut pengerahan tenaga kolektif yang besar.