PORTAL7.CO.ID - Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan seruan penting kepada seluruh lapisan masyarakat agar senantiasa menjaga kerukunan antarumat beragama menjelang perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2026. Ajakan ini disampaikan langsung setelah ia menghadiri puncak perayaan Tawur Agung Kesanga di Lapangan Rampal, Kota Malang, pada hari Rabu (18/3/2026).

Menurut Wahyu Hidayat, semangat toleransi yang telah terbangun kuat di Kota Malang mendapatkan apresiasi dari Presiden Joko Widodo saat peringatan Hari Lahir 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU). Momentum ini menjadi pengingat penting untuk saling menghormati perayaan keagamaan yang berdekatan.

Ia menekankan bahwa Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/Lebaran 2026 memiliki inti ajaran yang sama. Kedua hari raya besar tersebut sama-sama mengajarkan tentang pentingnya pengendalian diri serta upaya memerangi segala bentuk kejahatan dalam diri.

Nilai-nilai universal ini, kata Wahyu, harus menjadi landasan utama bagi seluruh warga Kota Malang dalam menjunjung tinggi semangat toleransi dan meredam setiap potensi perpecahan bangsa. "Kita merupakan satu keluarga besar dengan beragam suku, bangsa, budaya, dan agama," ujarnya saat memberikan sambutan.

Sementara itu, di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, rangkaian Tawur Ageng Kesanga juga dimeriahkan dengan penyelenggaraan pawai Ogoh-Ogoh pada hari yang sama. Arak-arakan tradisi umat Hindu ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas, diiringi alunan musik gamelan dan doa bersama.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyumas, Slamet Raharjo, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan perpaduan antara aspek spiritual dan budaya yang mendalam. Pawai Ogoh-Ogoh bukan sekadar tontonan, tetapi merupakan ritual integral dari Tawur Agung Kesanga untuk pemurnian diri dan lingkungan sebelum memasuki hari hening Nyepi.

Ogoh-Ogoh yang diarak dan kemudian dibakar melambangkan representasi dari sifat-sifat negatif manusia yang wajib dikendalikan oleh setiap individu. Setelah ritual ini, umat Hindu akan memulai pelaksanaan Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh.

Catur Brata Penyepian meliputi empat pantangan utama yang harus dipatuhi, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati kesenangan duniawi).

Slamet Raharjo menegaskan bahwa toleransi antarumat beragama di wilayah Banyumas terjalin sangat harmonis tanpa pernah terjadi gesekan sedikit pun selama ini. Ia meyakini bahwa kegiatan takbiran menjelang Idulfitri tidak akan mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang akan menjalani penyepian mulai 19 Maret pukul 05.59 WIB hingga 20 Maret pukul 06.00 WIB. "Mari bersama-sama saling menghargai," jelasnya.