Aku selalu percaya bahwa ambisi adalah bahan bakar terbaik; ia membuatku terbang tinggi, mengabaikan gravitasi keraguan. Di usia yang masih belia, aku sudah memegang kendali atas proyek ‘Karya Agung’, sebuah menara percontohan yang dijanjikan akan mengubah lanskap kota. Kepercayaan diri yang berlebihan itu, sayangnya, adalah racun yang kusangka madu.
Setiap garis yang kutorehkan pada kertas kalkir terasa seperti deklarasi keunggulan, sebuah janji bahwa aku berbeda dari yang lain. Aku bekerja dengan kecepatan tinggi, sering mengabaikan pemeriksaan berlapis yang diwajibkan oleh mentor lamaku. Bagiku, detail kecil hanyalah penghambat laju, sesuatu yang bisa diserahkan pada tim di bawahku.
Puncaknya tiba ketika laporan audit menemukan cacat struktural fatal pada fondasi yang telah disetujui. Kesalahanku terletak pada perhitungan beban yang diremehkan, sebuah revisi kecil yang kulakukan pada malam hari tanpa notifikasi resmi. Angka-angka itu kini menjelma menjadi hantu, meruntuhkan bukan hanya menara impian, tetapi juga seluruh reputasiku.
Suara palu godam yang menghancurkan pondasi yang baru dibangun terasa seperti genderang kematian bagi egoku. Semua mata tertuju padaku, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kekecewaan dingin yang jauh lebih menyakitkan. Aku dipaksa mundur, meninggalkan puing-puing proyek yang menelan investasi besar, dan menghadapi keheningan kantor yang menusuk.
Beberapa bulan berikutnya adalah masa isolasi yang menyakitkan. Aku menjauh dari hiruk pikuk, hanya ditemani oleh tumpukan buku teknik dan secangkir kopi pahit yang tak pernah habis. Aku menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan sebuah cermin yang memaksa kita melihat versi diri yang paling rentan.
Di tengah keterpurukan itu, aku mulai memahami bahwa apa yang kualami ini adalah babak krusial dalam sebuah skenario besar. Inilah esensi dari Novel kehidupan, di mana plot tidak selalu berjalan sesuai harapan, namun justru liku-liku itulah yang membentuk karakter. Aku harus menerima bahwa tanggung jawab penuh atas kesalahan itu adalah harga yang harus kubayar untuk naik tingkat.
Proses membangun kembali kepercayaan, baik dari klien maupun diriku sendiri, adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada mendirikan menara. Aku belajar menjadi teliti, memeriksa setiap detail hingga tiga kali, dan mendengarkan masukan dengan kerendahan hati yang sebelumnya tidak kumiliki. Kedewasaan ternyata bukan tentang seberapa tinggi pencapaianmu, melainkan seberapa kuat kamu berdiri setelah terjatuh.
Kini, aku kembali mendesain, bukan dengan ambisi yang membakar, melainkan dengan ketenangan yang membumi. Aku tahu bahwa Risa yang dulu sudah mati bersama reruntuhan proyek itu, digantikan oleh seseorang yang menghargai proses lebih dari hasil akhir. Aku sadar, pelajaran paling berharga seringkali dikemas dalam bungkus kepahitan.
Lalu, sebuah surat datang dari mentor lamaku; sebuah tawaran untuk memimpin proyek restorasi bangunan bersejarah yang memerlukan ketelitian dan kesabaran ekstra. Aku menatap sketsa baru di tanganku, bertanya-tanya, apakah aku benar-benar siap untuk memegang palu godam sekali lagi, kali ini bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menciptakan warisan yang abadi?