PORTAL7.CO.ID - Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) telah memberikan konfirmasi kuat mengenai efektivitas penggunaan komponen oksigenat dalam bahan bakar minyak (BBM) untuk menekan tingkat polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Studi ini secara spesifik menyoroti dampak positifnya terhadap kualitas udara di dua kota metropolitan besar, yakni Jakarta dan Surabaya.

Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan perangkat simulasi canggih, yaitu model Motor Vehicle Emission Simulator (MOVES), yang bertujuan untuk mengevaluasi berbagai formulasi bensin. Fokus utama evaluasi adalah terhadap pengurangan polutan udara berbahaya, termasuk karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta materi partikulat halus (PM).

Pakar dari ITB menekankan bahwa pemilihan jenis campuran bahan bakar memegang peranan sangat penting dalam upaya mitigasi emisi gas buang di area perkotaan yang memiliki kepadatan populasi tinggi. Faktor ini menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan energi yang lebih ramah lingkungan di masa mendatang.

Salah satu peneliti utama dari studi tersebut, Prof. Puji Lestari, menyampaikan hasil temuan mereka mengenai zat aditif spesifik. "Analisis kami mengonfirmasi bahwa komponen oksigenat terbukti mengurangi emisi, terutama dengan penggunaan komponen eter, MTBE atau ETBE. Selain bahan bakar standar euro IV, penggunaan komponen ini membantu mengurangi polusi udara di lingkungan perkotaan yang padat seperti Jakarta dan Surabaya," ujar Prof. Puji Lestari.

Secara metodologis, simulasi yang dijalankan mencakup sepuluh variasi BBM yang berbeda, mulai dari rentang angka oktan RON 90 hingga RON 95. Variasi ini dicampur dengan berbagai jenis oksigenat, seperti etanol, MTBE (Methyl Tert-Butyl Ether), dan ETBE (Ethyl Tert-Butyl Ether) untuk mengukur efektivitas pengurangan polusi secara kuantitatif.

Data hasil pemodelan menunjukkan hasil yang signifikan ketika membandingkan BBM tertentu dengan standar yang ada. Disebutkan bahwa Pertamax 92 yang diberi tambahan 14 persen MTBE mampu menurunkan tingkat polutan PM2.5 hingga mencapai 40 persen, serta mengurangi senyawa organik volatil (VOC) sekitar 4 persen jika dibandingkan secara langsung dengan Pertalite berstandar RON 90.

Selain itu, dampak positif dari campuran MTBE ini juga terlihat pada penurunan zat-zat beracun lainnya yang sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan. Senyawa pemicu kanker butadiena terdeteksi menurun sebesar 33 persen, akrolein turun 38 persen, dan senyawa aromatik polisiklik menunjukkan penurunan sebanyak 14 persen.

Peluang dari temuan studi ini dinilai sangat strategis dan dapat segera diimplementasikan oleh pemerintah sebagai langkah intervensi kesehatan masyarakat melalui peningkatan mutu bahan bakar yang beredar di pasar domestik.

Serene Johnson, Direktur Eksekutif Asia Clean Fuel Association (ACFA), memberikan pandangan bahwa kebijakan ini merupakan solusi cepat yang tersedia. "Meningkatkan kualitas bahan bakar adalah salah satu jalur tercepat dan paling praktis yang tersedia saat ini untuk mengurangi emisi transportasi di Indonesia," tutur Serene Johnson.