Aroma kopi robusta dan kayu lapuk adalah parfum yang kini melekat di kulitku, menggantikan wangi buku-buku arsitektur yang selalu kuimpikan. Dulu, aku membayangkan diriku berdiri di tengah kota metropolitan, memegang pena sketsa, bukan spatula penggorengan di dapur Kedai Kopi Pak Tua. Keputusan mendadak untuk merawat kedai peninggalan kakek yang sakit, adalah palu godam yang menghancurkan peta masa depanku.

Ada rasa pahit yang lebih pekat dari ampas kopi terkuat, yaitu rasa keterpaksaan. Aku merasa terjebak di antara tumpukan cangkir kotor dan senja yang selalu sama, sementara teman-temanku mulai mengirim kabar gembira tentang kehidupan kampus yang baru. Desa ini terasa seperti penjara yang menawan, dengan janji-janji kedewasaan yang harus kubayar mahal.

Malam-malam awal adalah neraka. Aku harus menghitung pemasukan yang tak seberapa, menghadapi pelanggan yang rewel, dan belajar membedakan biji kopi yang bagus dari yang busuk. Tanggung jawab ini datang tanpa buku panduan, memaksa seorang gadis yang hanya tahu teori bangunan untuk belajar tentang fondasi kehidupan yang sesungguhnya.

Namun, perlahan, di balik kepulan asap rokok pelanggan setia dan suara gemericik air, aku mulai menemukan ritme. Kedai ini bukan hanya tumpukan meja dan kursi; ia adalah jantung komunitas kecil ini, tempat di mana kisah-kisah lama dipertukarkan dengan tawa dan air mata. Aku mulai mendengarkan, bukan hanya sekadar melayani.

Aku bertemu Bu Darmi, yang selalu memesan kopi tanpa gula sambil bercerita tentang anak-anaknya yang merantau. Aku bertemu Pak Bima, pensiunan guru yang selalu datang di jam yang sama, hanya untuk menikmati kesunyian sebelum fajar menyingsing. Mereka tidak melihatku sebagai Risa si calon arsitek yang gagal, melainkan Risa, penjaga api warisan yang hangat.

Dari kisah-kisah mereka, aku menyadari bahwa setiap orang membawa beban dan keindahan mereka sendiri. Aku mulai melihat diriku bukan sebagai korban keadaan, tetapi sebagai pemeran utama yang sedang menulis babak paling menantang dalam Novel kehidupan ini. Kedewasaan ternyata bukan tentang usia yang bertambah, melainkan tentang kemampuan kita menerima peran yang tak pernah kita minta.

Aku belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada ketenangan saat badai menerpa. Aku tidak lagi lari dari kesulitan; sebaliknya, aku mulai merangkulnya, menjadikannya pupuk untuk pertumbuhan jiwa yang selama ini terlalu manja. Setiap tumpahan susu dan setiap tagihan listrik yang harus dibayar tepat waktu adalah pelajaran yang lebih berharga dari ribuan teori di bangku kuliah.

Kedai Kopi Pak Tua kini bukan lagi batu sandungan, melainkan mercusuar. Aku mungkin tidak sedang mendesain gedung pencakar langit, tetapi aku sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh: karakter. Aku belajar bahwa mimpi bisa bergeser, tetapi nilai dari pengorbanan dan dedikasi akan tetap abadi.

Aku menutup buku kas malam itu, menghirup aroma kopi terakhir yang tersisa di udara. Tanganku memang kasar karena mencuci piring, tetapi hatiku terasa jauh lebih lapang. Aku tidak tahu kapan aku bisa kembali mengejar sketsa dan cetak biru, tetapi satu hal yang pasti: ketika saat itu tiba, aku akan menjadi arsitek yang jauh lebih matang, karena aku telah lebih dulu menjadi nahkoda bagi diriku sendiri.