PORTAL7.CO.ID - Dalam konstelasi teologi Islam, doa bukanlah sekadar ritual permohonan yang bersifat pragmatis atau transaksional untuk memenuhi kebutuhan material semata. Lebih dalam dari itu, doa merupakan sebuah manifestasi tertinggi dari pengakuan eksistensial seorang hamba mengenai kefanaan dirinya di hadapan kemahakuasaan Sang Khaliq. Secara ontologis, aktivitas berdoa menegaskan jarak yang tak terhingga antara makhluk yang terbatas dan Tuhan yang Maha Tak Terbatas, namun di saat yang sama, ia menjadi jembatan metafisika yang menyatukan kerinduan jiwa dengan rahmat-Nya.

Kesadaran akan kedekatan Allah SWT kepada hamba-Nya yang berdoa menjadi fondasi utama dalam membangun optimisme spiritual. Allah tidak hanya memerintahkan hamba-Nya untuk meminta, tetapi Dia juga memberikan jaminan kedekatan yang melampaui logika manusia. Ketika seorang hamba mengangkat tangan dengan penuh ketundukan, pada hakikatnya ia sedang menyelaraskan frekuensi batinnya dengan kehendak Ilahi, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya yang agung:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)

Salah satu momentum emas yang paling ditekankan dalam tradisi profetik adalah sepertiga malam terakhir. Pada saat dunia terlelap dalam kesunyian, terjadi sebuah dialektika spiritual yang sangat intim antara Pencipta dan hamba yang terjaga. Keheningan malam menjadi medium yang paling bersih dari riya dan gangguan duniawi, memungkinkan jiwa untuk melesat menuju singgasana Arasy tanpa sekat. Hal ini digambarkan secara indah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Terjemahan: "Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri! Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni!'" (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Keistimewaan hari Jum'at ini bukan sekadar mitos, melainkan sebuah kepastian yang disampaikan langsung oleh Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah. Beliau mengajarkan kita untuk senantiasa bersiap dan berupaya menemui waktu tersebut dengan hati yang bersih. Keberadaan waktu misterius ini melatih kesabaran dan ketekunan seorang mukmin dalam beribadah sepanjang hari, sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau:

فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Terjemahan: "Di hari Jum'at terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim mendapati waktu tersebut dalam keadaan berdiri melaksanakan shalat, lalu ia memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya.' Beliau memberi isyarat dengan tangannya menunjukkan singkatnya waktu tersebut." (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852)

Rasulullah SAW

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/dialektika-hamba-dan-pencipta-analisis-ontologis-dan-epistemologis-terhadap-waktu-waktu-mustajab-dalam-tradisi-profetik