PORTAL7.CO.ID - Perjalanan spiritual seorang hamba menuju Sang Khalik bukanlah sekadar deretan ritual lahiriah tanpa makna, melainkan sebuah pendakian menuju puncak kesadaran tertinggi yang disebut sebagai Ihsan. Dalam struktur bangunan agama yang kokoh, Islam, Iman, dan Ihsan merupakan trilogi yang tidak dapat dipisahkan, di mana Ihsan menjadi ruh yang menghidupkan raga ibadah. Maqam ini menuntut seorang mukmin untuk melampaui batas-batas formalitas menuju substansi kehadiran Ilahi yang menggetarkan jiwa. Hal ini ditegaskan dalam penggalan hadis monumental saat Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengenai hakikat kesempurnaan pengabdian.

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ.

Terjemahan: Dia (Jibril) bertanya lagi: "Beritahukan kepadaku tentang Ihsan." Rasulullah menjawab: "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Dia bertanya lagi: "Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat." Beliau menjawab: "Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya." Dia bertanya lagi: "Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya." Beliau menjawab: "Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, dan miskin, penggembala kambing, berlomba-lomba dalam membangun gedung-gedung megah." (HR. Muslim no. 8)

Kesadaran akan kedekatan Allah ini bukanlah sebuah imajinasi kosong, melainkan janji nyata yang termaktub dalam wahyu-Nya yang agung. Allah menegaskan bahwa Dia senantiasa dekat dan mendengar rintihan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencari wajah-Nya. Kedekatan ini menjadi fondasi bagi seorang hamba untuk membangun komunikasi yang intim dengan Sang Pencipta, sehingga setiap aktivitas duniawinya bernilai ukhrawi. Tanpa kesadaran akan kedekatan ini, agama hanya akan menjadi tumpukan dogma yang kering dari nilai-nilai transformatif.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemahan: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Analisis mendalam terhadap ayat-ayat Al-Quran menunjukkan bahwa Allah memberikan petunjuk khusus bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam meniti jalan menuju-Nya. Jalan Ihsan adalah jalan cahaya yang menerangi kegelapan keraguan dan ketidakpastian hidup manusia modern. Dengan mempraktikkan Ihsan, seorang muslim akan memiliki ketangguhan mental dan spiritual karena ia menyadari bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung dan saksi atas segala urusannya. Inilah esensi dari keberagamaan yang fungsional, yang mampu mengubah karakter individu menjadi pribadi yang rahmatan lil 'alamin.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Terjemahan: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (Ihsan). (QS. Al-Ankabut: 69)

Sebagai penutup, marilah kita menyadari bahwa derajat Ihsan adalah anugerah terbesar yang dapat diraih oleh seorang hamba selama hidup di dunia. Ia adalah kunci pembuka pintu-pintu rahasia ketuhanan yang akan membawa ketenangan abadi bagi jiwa yang gelisah. Tanpa Ihsan, iman kita mungkin goyah diterjang badai fitnah zaman, dan Islam kita mungkin hanya menjadi identitas tanpa integritas. Mari kita memohon kepada Allah agar hati kita senantiasa dipenuhi dengan cahaya makrifat dan kekuatan untuk terus berbuat ihsan dalam setiap lini kehidupan.

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Terjemahan: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Az-Zumar: 22)

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/manifestasi-ihsan-dan-hakikat-ma-rifatullah-analisis-komprehensif-terhadap-hadis-jibril-dan-ayat-ayat-tajalli