Aku selalu berpikir kedewasaan adalah hadiah yang datang seiring bertambahnya usia, sebuah proses otomatis yang tidak memerlukan usaha keras. Namun, aku salah besar. Kesadaranku dihantam keras oleh kenyataan saat surat bank itu tiba, mengubah tawa riangku menjadi keheningan yang dingin dan mencekam.
Surat itu bukan hanya berisi angka-angka merah; itu adalah warisan dari ayahku, sebuah toko buku kecil yang kini terancam gulung tikar. Aku yang selama ini hanya tahu cara menghabiskan uang, tiba-tiba dihadapkan pada tanggung jawab untuk menyelamatkan sebuah mimpi yang sekarat.
Malam-malam pertamaku di balik meja kasir yang berdebu terasa seperti siksaan. Aku tidak tahu bagaimana mengelola stok, apalagi menghadapi para penagih utang yang suaranya terdengar lebih tajam daripada pecahan kaca. Setiap kesalahan kecil terasa seperti palu godam yang menghancurkan sisa-sisa kepercayaan diriku.
Ada saatnya aku ingin menyerah, mengunci pintu toko, dan kembali ke kehidupan lamaku yang nyaman tanpa beban. Namun, setiap kali mataku bertemu dengan buku-buku tua yang tersusun rapi—buku-buku yang disayangi ayahku—aku merasakan desakan aneh, sebuah janji yang harus kutepati.
Aku mulai belajar bahwa hidup yang sesungguhnya tidak terjadi di zona nyaman. Ia terjadi di tengah kekacauan, di mana kita dipaksa untuk berinovasi dan bertahan. Proses inilah yang mengubah sudut pandangku, menjadikannya babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis.
Perlahan, aku menemukan mentor tak terduga dalam diri Pak Tua Harun, seorang pelanggan setia yang telah mengenal toko ini selama puluhan tahun. Ia tidak memberiku uang, melainkan memberiku kebijaksanaan: bahwa bisnis adalah tentang hubungan, bukan sekadar transaksi.
Aku mulai berbicara, mendengarkan, dan belajar. Aku belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara keputusan yang didorong emosi dan keputusan yang didorong logika. Mataku yang dulu hanya melihat keindahan, kini mulai mampu membaca detail-detail kecil yang krusial.
Risa yang dulu manja telah mati. Kini, yang tersisa adalah Risa yang lelah namun gigih, yang mengerti bahwa kedewasaan bukanlah tentang berapa banyak yang kau miliki, melainkan seberapa besar badai yang mampu kau hadapi sendirian.
Toko itu akhirnya stabil, napasnya kembali teratur. Namun, ketika aku berdiri di ambang pintu, menatap cahaya senja yang menyinari rak buku, aku menyadari satu hal: meskipun aku telah menyelamatkan toko ini, pertanyaan terbesarnya adalah, setelah semua perjuangan ini, apakah aku benar-benar siap untuk menghadapi babak selanjutnya yang menanti di balik cakrawala?