Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah pencapaian yang datang seiring usia, bukan hasil dari sebuah kehancuran yang tiba-tiba. Hidupku, yang dulu tersusun rapi seperti rak buku di perpustakaan, mendadak berantakan ketika pondasi terkuat yang kubangun selama bertahun-tahun runtuh tanpa peringatan. Saat itu, aku hanya seorang gadis yang terlalu nyaman dalam zona aman, belum mengenal arti sesungguhnya dari badai.

Kegagalan itu datang dalam bentuk surat pemberhentian kerja dan penolakan dari beasiswa impian. Rasa malu dan kekecewaan begitu pekat, seolah aku menelan debu pahit dari semua harapan yang gugur. Aku merasa duniaku mengecil, dan setiap cermin di rumah hanya memantulkan bayangan seseorang yang gagal total.

Dalam keputusasaan, aku memutuskan untuk melarikan diri, meninggalkan hiruk pikuk kota besar menuju sebuah desa di kaki pegunungan. Di sana, aku menyewa sebuah kamar kecil dengan jendela menghadap hutan pinus, berharap keheningan alam bisa meredam suara-suara penghakiman di kepalaku. Aku ingin mengubur identitas lamaku dan memulai lagi, meskipun aku tidak tahu harus memulai dari mana.

Minggu-minggu awal terasa menyiksa, dompet menipis dan keterampilan yang kumiliki di dunia korporat sama sekali tidak berguna di pedalaman. Aku terpaksa mengambil pekerjaan serabutan, mencuci piring di warung makan sederhana dan membantu Ibu pemilik warung menimbang hasil panen. Ini adalah tamparan keras, sebuah penurunan status yang menyakitkan ego.

Namun, justru di tengah rutinitas sederhana itulah aku mulai melihat cahaya. Ibu pemilik warung, seorang wanita tua dengan mata yang penuh kehangatan, sering bercerita tentang hidupnya yang penuh liku. Ia tidak pernah mengeluh, ia hanya menerima setiap musim, baik kemarau maupun hujan, sebagai bagian tak terpisahkan dari keberadaan.

Ia pernah berbisik padaku, “Nak, kesulitan bukanlah akhir dari cerita, melainkan cara Semesta memaksamu membalik halaman.” Saat itu, aku sadar bahwa aku sedang menulis babak paling penting yang akan membentuk karakterku. Semua kepahitan ini adalah tinta yang memperkaya alur dalam *Novel kehidupan* yang sedang kususun.

Aku berhenti fokus pada apa yang hilang dan mulai fokus pada apa yang bisa kubangun di tempat baru ini. Dengan sisa uang yang ada, aku mulai menjual kerajinan tangan sederhana yang kubuat dari bahan-bahan alam di sekitar desa. Aku belajar berinteraksi, bernegosiasi, dan paling penting, aku belajar berdiri di atas kaki sendiri tanpa jaring pengaman.

Kedewasaan yang sesungguhnya ternyata bukan tentang mencapai target besar, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit setelah terlempar jauh. Aku tidak lagi takut pada kegagalan, sebab aku tahu, setiap luka adalah bekas luka yang indah, bukti bahwa aku selamat dari pertempuran. Luka-luka itu adalah peta menuju jati diri yang lebih kuat dan lebih tulus.

Kini, aku melihat ke belakang tanpa penyesalan, hanya rasa syukur atas proses pendewasaan yang menyakitkan itu. Aku telah menemukan kedamaian, tetapi pertanyaan besarnya tetap menggantung: Jika aku kembali ke kota, apakah aku akan menjadi Risa yang sama, ataukah aku akan membiarkan babak baru ini membawaku pada takdir yang belum pernah kubayangkan?