PORTAL7.CO.ID - Salah satu kepercayaan yang masih mengakar kuat di kalangan masyarakat Indonesia adalah anggapan bahwa kebiasaan mandi pada malam hari bisa memicu penyakit rematik. Kepercayaan turun-temurun ini seringkali menjadi perhatian utama saat memasuki musim dingin atau malam hari yang lebih sejuk.

Namun, dari perspektif medis profesional, anggapan tersebut dipastikan hanyalah sebuah mitos yang belum terbukti secara ilmiah. Rematik, atau yang dikenal dengan nama rheumatoid arthritis dalam terminologi kedokteran, memiliki etiologi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar paparan suhu dingin.

Dilansir dari bogorplus.id, rheumatoid arthritis sejatinya merupakan sebuah penyakit yang tergolong dalam kategori autoimun. Hal ini berarti penyakit tersebut tidak disebabkan oleh faktor eksternal seperti mandi saat malam hari atau terkena udara dingin.

Kondisi rheumatoid arthritis didefinisikan sebagai peradangan kronis yang terjadi secara berkelanjutan di area persendian tubuh. Gejala utamanya seringkali meliputi rasa nyeri yang intens, disertai dengan adanya pembengkakan signifikan, dan kekakuan sendi yang mengganggu aktivitas harian.

Secara umum, sendi-sendi yang paling sering menjadi sasaran dari kondisi autoimun ini meliputi jari tangan, pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, hingga area jari kaki. Diagnosis yang tepat sangat penting untuk membedakannya dengan jenis artritis lainnya.

Penyebab utama rheumatoid arthritis adalah ketika sistem kekebalan tubuh mengalami disfungsi atau kesalahan dalam identifikasi. Sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru keliru mengenali sel-sel sehat sebagai ancaman, sehingga memicu reaksi peradangan.

Meskipun mandi malam bukan merupakan akar penyebab timbulnya penyakit ini, suhu air yang dingin tetap memiliki potensi dampak negatif bagi mereka yang sudah terdiagnosis rematik. Suhu rendah diketahui dapat memperburuk gejala yang sudah ada sebelumnya.

"Meski mandi malam bukan penyebab utama, suhu air yang dingin memang dapat memperparah keluhan bagi mereka yang sudah menderita rematik," ujar seorang pakar kesehatan, menggarisbawahi pentingnya manajemen gejala.

Kondisi suhu rendah, terutama pada malam hari, cenderung membuat sendi terasa jauh lebih nyeri dan kaku dari biasanya. Hal ini tentunya akan sangat mengurangi kualitas hidup penderita dalam menjalani rutinitas mereka.