PORTAL7.CO.ID - Dinamika internal menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 mulai menunjukkan pergerakan signifikan. Salah satu tokoh pesantren asal Jombang menyatakan kesiapannya untuk ikut berkompetisi dalam bursa pemilihan pimpinan tertinggi organisasi tersebut.

Langkah strategis ini diambil sebagai upaya untuk membawa perubahan positif di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernyataan resmi ini disampaikan pada Jumat (10/4/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

"Untuk Tanfidziyah, kebetulan saya sendiri sedang berikhtiar dan berupaya mendapatkan kepercayaan dari struktur PWNU, PCNU untuk bisa berkhidmah atau mengabdi di PBNU pada Muktamar depan," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam.

Visi yang dibawa oleh Gus Salam berfokus pada pemulihan keharmonisan internal yang dinilai sedang menghadapi tantangan besar. Ia melihat perlunya langkah konkret agar organisasi kembali pada jalurnya dalam memberikan manfaat bagi umat luas.

"Situasi NU atau PBNU saat ini tentu kita tahu semua, cukup memprihatinkan. Setelah terjadinya konflik tajam yang tidak produktif dan menguras energi serta beberapa pengurusnya yang tersangkut kasus hukum, tentu ke depan situasi ini tidak boleh terjadi kembali," kata Gus Salam menjelaskan latar belakang pencalonannya.

Sebagai solusi praktis, Gus Salam menawarkan program prioritas yang mengedepankan persatuan. Ia berkomitmen untuk meminimalkan dominasi kepentingan pribadi demi menjaga kewibawaan organisasi di mata warga Nahdliyin.

"Dan salah satu hal prinsip yang harus dilakukan adalah rekonsiliasi total. Tidak ada lagi pecat-pecatan, interest personal yang mendominasi. Kembali merajut Ukhuwwah Nahdliyyah agar ke depan marwah, wibawa dan manfaat NU di hadapan umat kembali dirasakan. Tentu tujuan di atas yang menjadi target dan prioritas kami," tambah Gus Salam.

Selain memetakan kebutuhan di jajaran Tanfidziyah, Gus Salam juga menyoroti kriteria penting bagi posisi Rais Aam. Menurutnya, pimpinan tertinggi di jajaran Syuriyah harus memiliki kedekatan kultural yang kuat dengan dunia pesantren.

"Terkait dengan sosok untuk Rais Aam tentu dibutuhkan sosok kiai yang kuat dari sisi basis keilmuan, basis kultural maupun pesantren. Kemudian sosok yang mampu menyejukkan dan mampu mempersatukan pengurus, warga NU untuk kembali kompak," tandas Gus Salam.