Kuliner tradisional Indonesia menghadapi tantangan signifikan untuk tetap relevan di tengah gempuran makanan cepat saji global. Jajanan pasar dan makanan kaki lima kini dituntut tidak hanya menawarkan rasa yang lezat, tetapi juga memenuhi standar kebersihan dan kemudahan akses modern.
Salah satu fakta utama adalah pergeseran pola konsumsi yang kini sangat bergantung pada platform daring dan layanan pesan antar makanan. Fenomena ini memaksa para pelaku usaha kuliner tradisional untuk mengadopsi teknologi digital agar jangkauan pasar mereka semakin luas.
Secara historis, kekuatan kuliner tradisional terletak pada resep turun temurun dan interaksi langsung antara penjual dan pembeli. Namun, generasi muda kini mencari pengalaman kuliner yang cepat, terstandarisasi, dan estetik, mendorong inovasi pada kemasan dan penyajian.