PORTAL7.CO.ID - Para tokoh agama di Jawa Timur terus mengingatkan pentingnya menjaga hubungan sosial dan kekeluargaan di tengah dinamika kehidupan modern. Salah satu tokoh yang menyoroti hal ini adalah seorang kiai sepuh dari wilayah Sidayu, Gresik.
Beliau secara tegas menyampaikan bahwa esensi dari silaturahmi sejatinya melampaui batas-batas waktu yang telah ditetapkan secara adat. Kegiatan mempererat hubungan ini seharusnya menjadi praktik rutin yang dilakukan setiap saat.
KH Mohammad Farhan, yang juga menyandang amanah sebagai Pj Rais Syuriyah PCNU Gresik, menggarisbawahi bahwa upaya menjaga keakraban tidak perlu menunggu momen besar atau perayaan keagamaan tertentu. Hal ini penting demi menjaga kohesi sosial di masyarakat.
Menurut Kiai Farhan, cara untuk mewujudkan niat baik ini bisa dilakukan melalui pendekatan yang sangat sederhana dalam keseharian. Salah satu contoh konkretnya adalah melalui komunikasi digital yang kini mudah diakses oleh semua kalangan.
"Asline silaturahmi niku mboten terbatas pada bulan Syawal mawon, mboten. Setiap saat kulo panjenengan nggih saget silaturahmi, nggih saget ngelaksanaaken," tutur Kiai Farhan, menekankan bahwa silaturahmi tidak hanya terbatas pada bulan Syawal saja, melainkan bisa dilaksanakan kapan saja, sebagaimana dikutip dari tayangan Shorts NUGres Channel pada Jumat (20/3/2026).
Kiai Farhan kemudian menyinggung tantangan spesifik yang kerap dihadapi, terutama oleh kaum hawa, dalam menjalankan tradisi kunjungan ini. Fenomena ini sering kali berkaitan dengan ekspektasi sosial terkait pemberian buah tangan atau oleh-oleh.
Beliau berkelakar mengenai perbedaan persepsi antara laki-laki dan perempuan dalam konteks kunjungan tanpa membawa bingkisan. Hal ini menunjukkan adanya tekanan sosial tertentu yang terkadang menjadi penghalang dalam bersilaturahmi.
“Nopo malih kangge nipun tiyang estri, nek gak atek nggowo gawan iku isin. Lah nek wong lanang kan mboten, sluman slumun slamet ngoten mawon,” kelakar Kiai Farhan mengenai rasa malu wanita jika datang tanpa oleh-oleh, berbeda dengan anggapan laki-laki yang dianggap cukup datang saja.
Meskipun demikian, Kiai Farhan menegaskan bahwa tradisi membawa cinderamata bukanlah substansi utama yang harus dipegang teguh. Inti dari kegiatan ini adalah memastikan ikatan batin tidak pernah mengalami keretakan.