PORTAL7.CO.ID - Di era digital yang serba cepat ini, layar gawai sering kali menjadi jendela yang menampilkan fatamorgana kebahagiaan orang lain. Fenomena *Fear of Missing Out* (FOMO) atau ketakutan akan tertinggalnya informasi dan pencapaian telah menjadi beban psikologis yang berat bagi generasi Muslim masa kini. Tanpa disadari, jempol yang terus mengusap layar media sosial sering kali berujung pada rasa sesak di dada dan kegelisahan jiwa akibat membandingkan takdir diri sendiri dengan etalase hidup orang lain.
Islam mengajarkan bahwa setiap helai daun yang jatuh dan setiap detik perjalanan manusia telah tertulis dalam kitab yang nyata di sisi Allah SWT. Ketegangan mental yang muncul akibat FOMO sebenarnya merupakan sinyal bahwa hati kita sedang menjauh dari keyakinan terhadap ketetapan-Nya (Qada dan Qadar). Allah SWT telah mengingatkan kita agar tidak berputus asa atas apa yang luput dari kita dan tidak pula berbangga diri secara berlebihan atas apa yang diberikan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ . لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Terjemahan: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid: 22-23)
Rasa cemas yang muncul akibat FOMO sering kali berakar dari pandangan mata yang terlalu sering mendongak ke atas dalam urusan duniawi. Rasulullah SAW memberikan resep yang sangat mujarab untuk mengobati penyakit hati ini. Beliau mengajarkan kita untuk mengubah arah pandang agar rasa syukur senantiasa bersemi di dalam kalbu, sehingga kita tidak meremehkan nikmat-nikmat kecil yang sebenarnya sangat berharga namun sering terabaikan.
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Terjemahan: "Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu (dalam urusan dunia). Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Muslim)
Keadilan Allah tidak selalu terlihat dalam bentuk kesamaan nominal atau pencapaian materi, melainkan dalam kesesuaian ujian dengan kemampuan hamba-Nya. Jika hari ini langkahmu terasa berat, ingatlah bahwa Allah sedang menguji daya tahanmu karena Dia tahu kamu mampu melaluinya. Keyakinan ini tertuang indah dalam penggalan ayat terakhir surat Al-Baqarah yang menjadi penyejuk bagi setiap jiwa yang sedang merasa terhimpit oleh ekspektasi duniawi.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya'." (QS. Al-Baqarah: 286)
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar hati kita dijauhkan dari penyakit iri dengki dan ambisi duniawi yang melampaui batas. Semoga Allah mengaruniakan kita hati yang lapang, jiwa yang tenang, dan kaki yang kokoh untuk terus melangkah di jalan yang diridai-Nya. Mari kita tutup renungan ini dengan kesadaran akan hakikat kekayaan yang sebenarnya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Terjemahan: "Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup)." (HR. Bukhari dan Muslim)