Suasana Jalan Bhayangkara, Bintoro, Kabupaten Demak mendadak riuh oleh kehadiran para pemburu kuliner menjelang waktu berbuka puasa. Pasar krempyeng yang muncul secara dadakan ini menawarkan aneka ragam penganan tradisional yang menggugah selera. Di tengah keramaian tersebut, Jamu Coro menjadi primadona yang paling dicari oleh masyarakat setempat maupun pendatang dari luar kota.

Latif (25), seorang pemuda yang gigih melestarikan kuliner leluhur, tampak sibuk melayani antrean pembeli di gerobak merahnya. Ia menjajakan Jamu Coro seharga Rp 4 ribu serta bubur sumsum senilai Rp 3 ribu melalui usaha bernama Bubur Jamu Coro Mas Mawan. Lokasi dagangannya yang strategis di perempatan Kali Tuntang membuat lapak ini hampir tidak pernah sepi pengunjung setiap harinya.

Minuman legendaris ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan warisan berharga dari era Kesultanan Demak Bintoro yang kaya akan sejarah. Latif mengaku bahwa dirinya merupakan generasi penerus yang melanjutkan tradisi berjualan dari nenek dan ayahnya secara turun-temurun. Racikan Jamu Coro miliknya terdiri dari belasan rempah pilihan seperti kayu manis, sereh, jahe, merica, hingga kunir yang berkhasiat bagi tubuh. "Sampai sekarang alhamdulillah saya meneruskan tradisi dari keluarga saya dulu yang masih jualan jamu coro sampai sekarang," ungkap Latif pada Selasa (24/2/2026). Ia menjelaskan bahwa selama bulan Ramadan, aktivitas berjualannya dimulai sejak pukul 14.30 WIB hingga menjelang waktu Magrib tiba. Dalam kurun waktu yang relatif singkat tersebut, ia mampu menjual hingga 300 porsi kepada para pelanggan setianya.

Berdasarkan catatan sejarah dari situs Pemkab Demak, eksistensi Jamu Coro telah bermula sejak akhir abad ke-15 melalui peran Ki Ageng Kakibalar. Nama 'coro' sendiri memiliki filosofi mendalam yang berarti menjaga atau melindungi kesehatan tubuh dari berbagai ancaman penyakit. Mantan abdi dalem Sultan Trenggono tersebut menyebarkan resep ini sebagai sarana untuk menolong sesama masyarakat di wilayah Dukuh Tegalsari.

Keberadaan penjual Jamu Coro kini tergolong langka, sehingga kehadiran Latif di pasar krempyeng tersebut sangat diapresiasi oleh warga. Dwi Teguh Putrono (61), seorang pembeli asal Kudus, mengaku sengaja mampir ke Demak demi mencicipi minuman hangat yang kaya akan rasa jahe dan merica ini. Ia mengenang masa lalu saat penjual minuman tradisional ini masih banyak ditemui di sekitar area Stasiun Demak yang kini sudah tiada.

Bagi Dwi, Jamu Coro adalah kuliner legendaris yang menjadi kebanggaan sekaligus pengobat rindu akan masa kecilnya di Kota Wali. "Ini saya beli bungkus banyak juga buat anak cucu," pungkas Dwi saat menutup pembicaraan mengenai alasannya memborong minuman tersebut dalam jumlah banyak. Kehangatan rempah dalam setiap suapan bubur jamu ini diharapkan dapat terus lestari melintasi berbagai generasi di masa depan.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/jamu-coro-demak-diburu-pembeli