Toko roti legendaris asal Paris, Poilâne, kini tengah berjuang keras untuk menghindari ancaman kebangkrutan yang nyata. Pengadilan Niaga Paris secara resmi menetapkan status pemulihan yudisial bagi perusahaan keluarga ini sejak 19 Januari 2026. Langkah hukum tersebut diambil setelah perusahaan melaporkan kerugian finansial yang cukup fantastis sepanjang tahun buku 2024.

Total kerugian yang dialami oleh ikon kuliner Prancis ini mencapai lebih dari 2 juta euro atau setara dengan Rp40 miliar. Angka defisit tersebut menjadi alarm keras bagi kelangsungan bisnis yang telah melegenda selama puluhan tahun. Meskipun dalam pengawasan ketat pengadilan, manajemen berupaya keras untuk menjaga stabilitas internal perusahaan agar tetap bertahan.

Poilâne telah berdiri sejak tahun 1932 dan sering dijuluki sebagai 'Louis Vuitton' dalam industri roti dunia karena kualitas premiumnya. Saat ini, mereka mengoperasikan jaringan lima gerai di Paris serta satu cabang internasional yang berlokasi di London. Reputasi besarnya sebagai produsen roti sourdough terbaik kini sedang dipertaruhkan di tengah badai ekonomi global.

Direktur Poilâne, Apollonia Poilâne, menegaskan bahwa seluruh operasional toko di berbagai lokasi tetap berjalan normal tanpa gangguan. Menurutnya, keputusan untuk masuk ke dalam proses pemulihan yudisial merupakan strategi matang untuk menata ulang fondasi bisnis. Ia optimis bahwa restrukturisasi ini akan menjadi titik balik bagi perusahaan untuk bangkit kembali lebih kuat.

Krisis keuangan yang menimpa institusi kuliner ini sebenarnya telah dipicu oleh akumulasi beban ekonomi sejak masa pandemi Covid-19. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh lonjakan harga bahan baku tepung di pasar global yang tidak terhindarkan. Selain itu, peningkatan biaya tenaga kerja juga menjadi faktor signifikan yang terus menekan margin keuntungan perusahaan secara bertahap.

Terjadi pula pergeseran perilaku konsumen yang cukup signifikan, terutama di kalangan turis mancanegara dari Generasi Z. Kelompok demografis ini cenderung lebih tertarik mengunjungi toko roti modern yang menawarkan estetika visual kuat demi kebutuhan konten media sosial. Hal ini membuat toko roti tradisional seperti Poilâne harus berjuang ekstra keras memperebutkan atensi pasar baru.

Masa depan Poilâne kini sangat bergantung pada keberhasilan proses restrukturisasi di bawah pengawasan Pengadilan Niaga Paris. Dukungan dari pelanggan setia dan adaptasi terhadap tren pasar modern akan menjadi kunci utama penyelamatan bisnis keluarga ini. Publik kini menanti apakah sang legenda roti mampu melewati masa sulit ini dan mempertahankan warisan kulinernya.