Aku ingat betul aroma buku-buku lama di perpustakaan kampus, tempat impianku terasa begitu nyata dan dekat. Risa, seorang mahasiswi yang tenggelam dalam cita-cita arsitektur, tidak pernah membayangkan bahwa sketsa masa depannya akan disobek oleh kenyataan yang begitu mendadak. Kedewasaan, ternyata, bukan diukur dari usia yang tertera di kartu identitas, melainkan dari beban yang sanggup kita pikul.
Pagi itu, sebuah amplop lusuh dari kampung halaman mengubah segalanya. Bukan kabar gembira, melainkan rentetan angka-angka pinjaman dan catatan medis yang merobek ketenangan jiwaku. Ayah sakit, dan usaha keluarga terancam gulung tikar; aku, anak sulung yang jauh, harus segera pulang atau mencari jalan keluar.
Keputusan itu terasa seperti mencabut paksa akar yang baru saja kutanam: menunda studi, meninggalkan dosen favorit, dan menukar buku-buku tebal dengan seragam kerja yang kaku. Jakarta yang dulu terasa seperti panggung impian, kini berubah menjadi medan pertempuran yang dingin dan tak kenal ampun. Aku harus bekerja, dan itu harus terjadi sekarang.
Aku mulai dari nol, menjadi pelayan kafe di siang hari dan pekerja lepas input data hingga dini hari. Rasa lelah yang menusuk tulang adalah teman tidurku, dan setiap lembar rupiah yang kukumpulkan terasa begitu berat, dibayar dengan keringat dan air mata yang tersembunyi. Tidak ada lagi waktu untuk mengeluh atau meratapi nasib; yang ada hanyalah tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Di tengah rutinitas yang mencekik, aku mulai melihat dunia dari perspektif yang sama sekali berbeda. Aku menyadari bahwa setiap kesulitan, setiap pengorbanan yang kubuat, adalah babak penting yang harus kulalui dalam Novel kehidupan ini. Kedewasaan bukanlah tujuan, melainkan proses panjang yang dibentuk oleh keberanian untuk memilih hal yang benar, meskipun itu menyakitkan.
Ada momen ketika aku melihat teman-temanku di media sosial merayakan kelulusan, sementara aku masih berdiri di belakang meja kasir. Namun, rasa iri itu cepat tergantikan oleh rasa bangga yang aneh. Aku tidak hanya bertahan, tetapi aku juga tumbuh; aku belajar mengelola keuangan, bernegosiasi, dan yang terpenting, aku belajar untuk tidak membiarkan badai menenggelamkanku.
Aku menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi di balik buku-buku dan teori. Kekuatan untuk menahan diri, untuk memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas keinginanku sendiri. Masa jeda ini, yang awalnya terasa seperti hukuman, justru menjadi sekolah terbaik yang pernah kumasuki, mengajariku empati dan ketahanan mental.
Kini, meskipun jalan untuk kembali ke kampus masih panjang, aku tidak lagi merasa cemas. Risa yang sekarang jauh lebih kuat, tidak takut pada kegagalan, dan memahami bahwa mimpi sejati tidak bisa mati hanya karena tertunda. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk diwujudkan.
Aku memandang pantulan diriku di jendela kafe; bukan lagi gadis manja yang hanya tahu teori, melainkan seorang wanita yang telah ditempa oleh api tanggung jawab. Kedewasaan adalah ketika kita menyadari bahwa kita adalah penulis skenario utama dalam hidup kita sendiri, dan aku siap menulis babak selanjutnya, tak peduli seberapa curam tanjakan yang harus kulalui.
