PORTAL7.CO.ID - Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, telah melakukan pertemuan penting dengan Komisi VIII DPR RI di Jakarta pada Selasa (14/4/2026). Agenda utama rapat kerja tersebut adalah membahas kesiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi.

Fokus pembahasan mencakup dinamika anggaran yang diperlukan serta upaya peningkatan kualitas layanan yang akan diterima oleh seluruh jemaah di Arab Saudi. Pertemuan ini menjadi krusial untuk memastikan kelancaran operasional ibadah haji tahun mendatang.

Dilansir dari Cahaya, pemerintah secara resmi mengusulkan adanya penyesuaian total biaya penerbangan haji. Anggaran ini diusulkan naik signifikan dari semula sebesar Rp 6,69 triliun menjadi estimasi baru senilai Rp 8,46 triliun.

Kenaikan anggaran ini terjadi akibat adanya faktor eksternal yang tidak terhindarkan, yakni lonjakan harga avtur global dan fluktuasi tajam dalam nilai tukar mata uang asing. Faktor-faktor inilah yang mendorong perlunya penyesuaian alokasi dana.

Rincian dari usulan penambahan biaya tersebut dialokasikan secara spesifik untuk maskapai penerbangan. Tambahan dana sebesar Rp 974,8 miliar diusulkan untuk maskapai Garuda Indonesia, sementara Saudi Airlines membutuhkan tambahan sekitar Rp 802,8 miliar.

Komponen biaya penerbangan jemaah ini dipastikan akan bersumber dari Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Hal ini menunjukkan landasan hukum yang jelas bagi penyesuaian tersebut.

Menteri Haji dan Umrah menyampaikan harapannya terkait hasil rapat hari itu. "Kami berharap pada kesempatan rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI ini, dapat disetujui dan diputuskan mengenai besaran dan sumber pembiayaan untuk memenuhi penyesuaian biaya penerbangan tersebut," kata Mochamad Irfan Yusuf.

Selain isu anggaran, pemerintah juga tengah menginstruksikan perbaikan menyeluruh terhadap fasilitas hotel yang akan digunakan oleh jemaah di Tanah Suci. Perbaikan ini mencakup aspek sanitasi, area wudhu, hingga pembaruan karpet dan gorden demi kenyamanan maksimal.

Terkait logistik jemaah, pemerintah menargetkan distribusi koper akan rampung pada tanggal 17 April 2026 mendatang. Data terbaru menunjukkan Saudi Airlines telah mendistribusikan 74,1 persen koper, sedangkan Garuda Indonesia baru mencapai angka 50,8 persen.