PORTAL7.CO.ID - Di tengah gempuran krisis yang melanda berbagai belahan Dunia Islam, Indonesia muncul sebagai mercusuar harapan melalui diplomasi kemanusiaan yang berlandaskan nilai-nilai profetik. Peran kepemimpinan moral yang diambil oleh Indonesia bukanlah sekadar langkah taktis dalam percaturan politik luar negeri, melainkan sebuah panggilan jiwa yang berakar pada amanah konstitusi dan kedalaman akidah. Kesadaran kolektif bangsa ini menunjukkan bahwa ketika penderitaan menimpa saudara seiman di belahan bumi lain, maka denyut kepedulian di tanah air akan bergetar dengan frekuensi yang sama.
Langkah diplomasi ini sejalan dengan perintah Allah SWT untuk senantiasa tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Indonesia memahami bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi, tetapi dari sejauh mana ia mampu mengulurkan tangan bagi mereka yang terzalimi. Prinsip ini menjadi fondasi bagi kolaborasi harmonis antara pemerintah, lembaga zakat, dan ormas Islam dalam merespons krisis kemanusiaan global.
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Terjemahan: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Kedekatan emosional dan spiritual rakyat Indonesia dengan penderitaan umat Islam di dunia digambarkan secara indah dalam hadits Rasulullah SAW mengenai perumpamaan kaum mukmin. Ketika saudara di Palestina kehilangan tempat tinggal atau anak-anak di Sudan kelaparan, masyarakat Indonesia merasakannya sebagai luka milik bersama. Inilah yang menggerakkan gelombang kedermawanan yang tak pernah putus dari seluruh pelosok nusantara, membuktikan bahwa batas geografis tak mampu menyekat ukhuwah.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Terjemahan: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan menyantuni di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Persaudaraan yang kokoh merupakan modal utama bagi kebangkitan umat Islam di kancah global. Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memikul tanggung jawab sejarah untuk menjadi perekat persatuan tersebut. Melalui penguatan solidaritas ini, kita sedang membangun fondasi peradaban yang lebih adil, di mana hak asasi manusia dihormati dan penindasan terhadap bangsa manapun, terutama umat Islam, harus segera dihentikan.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa setiap kebaikan yang kita kirimkan ke Gaza, Sudan, atau Rohingya adalah bentuk ketaatan kita kepada Rasulullah SAW. Beliau menjanjikan bahwa Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Semoga Indonesia tetap istiqamah menjadi pembela kaum yang lemah dan terus menjadi motor penggerak bagi perdamaian dunia yang berlandaskan keadilan ilahi.
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Terjemahan: "Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)