Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah hadiah yang datang seiring bertambahnya usia, sebuah pencapaian otomatis setelah melewati ambang batas tertentu. Dengan gelar sarjana dan ambisi setinggi langit, aku merasa sudah siap menaklukkan dunia, menganggap diriku matang hanya karena mampu membayar tagihan dan merancang sketsa yang rumit. Namun, alam semesta punya cara yang lebih brutal untuk menguji keyakinan itu.
Impian terbesarku saat itu adalah ‘Pondok Cahaya’, sebuah proyek percontohan yang dirancang untuk menjadi pusat komunitas dan perpustakaan bagi anak-anak di pinggiran kota. Setiap garis yang kutorehkan di atas kertas kalkir terasa sakral, menjanjikan masa depan yang lebih cerah bagi ratusan wajah polos yang menanti. Aku mempertaruhkan semua reputasi dan tabunganku pada pondasi yang kuyakini kokoh.
Sayangnya, fondasi yang kukira kuat itu runtuh tanpa peringatan, bukan karena gempa bumi, melainkan karena badai kepercayaan yang tiba-tiba menerjang. Dana yang dijanjikan menghilang, mitra kerja yang kuanggap tulus ternyata berkhianat, meninggalkan Pondok Cahaya hanya sebagai puing-puing beton yang belum selesai. Aku berdiri di tengah reruntuhan itu, menyaksikan mimpi besarku berubah menjadi monumen kegagalan yang memalukan.
Reaksi pertamaku adalah melarikan diri, membuang ponsel, dan menghilang dari kota yang terasa menghakimi. Aku ingin menjadi pengecut, menyalahkan nasib, dan mengubur Risa yang ambisius di bawah tumpukan selimut tebal. Rasa malu itu begitu pekat, mencekik setiap helai napas yang kucoba tarik.
Namun, ketika aku memberanikan diri kembali dan melihat mata-mata tua di sana yang tidak menuntut, hanya menunjukkan kekecewaan yang sunyi, aku tersentak. Mereka tidak marah karena proyeknya gagal, mereka kecewa karena aku pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka mengajarkanku bahwa kegagalan finansial bisa diperbaiki, tetapi kegagalan moral meninggalkan luka yang jauh lebih dalam.
Di momen itu, aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang seberapa besar pencapaianmu, melainkan seberapa besar tanggung jawab yang berani kau pikul saat semuanya hancur. Aku memutuskan untuk tidak lari, melainkan tetap tinggal di sana, membantu membersihkan puing-puing dengan tangan kosong, dan mencari cara baru untuk menepati janji yang pernah kuberikan.
Mengumpulkan sisa-sisa material, bernegosiasi dengan kontraktor lama yang masih bersimpati, dan membangun kembali kepercayaan masyarakat adalah proses yang menyakitkan dan lambat. Babak ini adalah bagian terberat dari Novel kehidupan yang harus ia lalui, mengajarkanku bahwa kematangan adalah proses berdarah yang ditempa oleh penyesalan dan kerja keras yang tulus.
Aku belajar melepaskan ego yang selalu ingin terlihat sempurna; aku belajar meminta maaf dan menerima bantuan. Sekarang, Pondok Cahaya berdiri tegak, jauh lebih sederhana dari desain awal, tetapi dibangun di atas fondasi yang jauh lebih kuat—fondasi kejujuran dan ketahanan.
Pengalaman itu tidak hanya membuatku dewasa, tetapi juga mengubahku menjadi pribadi yang lebih utuh, seseorang yang tahu bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan satu babak penting yang harus dibaca sampai tuntas. Ketika hujan turun dan membasahi jendela kantorku, aku melihat bayangan Risa yang dulu dan Risa yang sekarang, dan aku tahu, perjalanan ini baru saja dimulai.