Suasana bulan suci Ramadan di tepian Sungai Kapuas kini semakin semarak dengan kehadiran Festival Musik Bangun Sahur. Halaman Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman menjadi pusat perhatian warga melalui dentuman beduk dan alunan rebana yang merdu. Kegiatan ini berhasil menyedot antusiasme masyarakat Kalimantan Barat yang rindu akan tradisi religi yang dikemas secara estetik.
Ajang ini merupakan bentuk transformasi tradisi membangunkan sahur yang dulunya hanya sekadar berkeliling kampung dengan alat seadanya. Kini, kegiatan tersebut bermetamorfosis menjadi panggung ekspresi seni modern tanpa menghilangkan nilai kebersamaan yang sakral. Pemerintah Kota Pontianak berharap acara ini mampu menjaga nyala tradisi di tengah gempuran zaman bagi generasi muda.
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, memberikan apresiasi tinggi serta dukungan penuh terhadap keberlangsungan festival tahunan ini. Beliau menekankan pentingnya profesionalitas dalam pengelolaan acara agar dampaknya terasa lebih luas bagi masyarakat luas. Komitmen pemerintah daerah sangat jelas untuk menjadikan agenda ini sebagai kalender tetap pariwisata kota yang membanggakan.
Bahasan pada Senin (23/2/2026) menyampaikan, "Harapannya, Festival Musik Bangun Sahur tak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga bagian dari rebranding kawasan Masjid Jami dan Istana Kadriah sebagai pusat budaya sungai yang hidup." Beliau meyakini bahwa festival ini memiliki potensi besar untuk mengangkat citra daerah. Kreativitas anak muda dalam bermusik religi menjadi motor penggerak utama dalam pelestarian identitas sejarah tersebut.
Kawasan Masjid Jami sendiri memiliki nilai historis yang sangat mendalam karena merupakan titik awal berdirinya Kota Pontianak. Masjid peninggalan era Kesultanan ini berdiri berdampingan dengan Istana Kadriah sebagai simbol peradaban yang tumbuh dari perairan. Melalui festival ini, nilai-nilai sejarah masa lalu coba dihadirkan kembali dengan cara yang lebih relevan bagi masyarakat masa kini.
Untuk meningkatkan daya tarik visual bagi wisatawan, Bahasan mengusulkan perubahan orientasi tata panggung pada penyelenggaraan mendatang. Panggung diharapkan dapat menghadap langsung ke arah Sungai Kapuas untuk menciptakan latar belakang pemandangan alam yang ikonik. Konsep ini dinilai akan memberikan pengalaman berbeda bagi penonton dan menonjolkan keindahan sungai terpanjang di Indonesia tersebut.
Pengemasan acara yang apik diharapkan mampu menjadikan festival ini sebagai etalase budaya religi yang diperhitungkan di tingkat nasional. Sektor pariwisata Pontianak diprediksi akan semakin berkembang seiring dengan penguatan identitas budaya sungai yang unik. Kolaborasi antara tradisi, sejarah, dan kreativitas menjadi kunci kesuksesan pembangunan karakter kota di masa depan.
Sumber: Infonasional