JAKARTA – Sambutan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Pertamina International Shipping (PIS), Surya Tri Harto, mengenai fokus perusahaan pada keselamatan operasional menuai kritik tajam. Center for Budget Analisis (CBA) menilai pernyataan tersebut tidak sejalan dengan fakta pengelolaan armada kapal sewa yang dinilai sarat masalah, terutama terkait usia kapal dan kinerja operasional.
Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi, menyebut pernyataan Surya Tri Harto dalam Laporan Tahunan 2024, yang menyinggung upaya penggantian kapal-kapal tua, terkesan "lucu dan menggelikan" di mata publik.
"Coba lihat fakta pengelolaan kapal sewa oleh PT PIS. Tidak ada perhatian serius terhadap usia kapal dan target effective load factor (ELF) atau tingkat okupansi kapasitas muatan kapal yang tersedia," kata Uchok Sky dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6/1).
Melanggar Batas Usia Kapal
Uchok Sky mengungkapkan, dari total 292 kapal yang dikelola PT PIS, sebanyak 123 kapal atau sekitar 42 persen merupakan kapal sewa yang usianya melebihi 20 tahun. Padahal, batas usia kapal telah diatur secara jelas dalam berbagai ketentuan industri, termasuk yang dikeluarkan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
"SKK Migas seringkali secara tegas mengumumkan persyaratan usia kapal dalam undangan prakualifikasi tender. Namun faktanya, PIS justru menyewa kapal-kapal yang usianya melampaui 20 tahun," tegasnya.
Menurut CBA, praktik penyewaan kapal tua ini berpotensi meningkatkan risiko inefisiensi biaya serta gangguan keselamatan pelayaran.
Kinerja Operasional yang Rendah
Selain masalah usia, CBA juga menyoroti rendahnya kinerja operasional sejumlah kapal sewa PIS. Uchok Sky merinci, setidaknya terdapat 26 kapal sewa yang tidak mampu mencapai target ELF yang ditetapkan. Kondisi ini menyebabkan realisasi biaya kapal atau freight cost menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan yang berhasil dihasilkan.
.png)
.png)

