Halaman Masjid Agung Ponorogo mendadak berubah menjadi lautan manusia yang antusias mengikuti layanan penukaran uang pecahan baru. Ratusan masyarakat setempat sudah memadati lokasi sejak pagi hari demi mendapatkan lembaran uang segar untuk keperluan Tunjangan Hari Raya (THR). Kegiatan yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI) ini menjadi magnet utama bagi warga yang ingin memeriahkan suasana Idulfitri.

Para pengantre terlihat sangat sabar menunggu giliran meski cuaca cukup terik dan antrean memanjang hingga ke area luar. Tujuan utama mereka adalah mendapatkan pecahan uang kecil yang nantinya akan dibagikan kepada anak-anak saat momen Lebaran tiba. Kehadiran mobil layanan kas keliling BI ini dianggap mempermudah akses masyarakat mendapatkan uang layak edar secara resmi dan aman.

Adinda Lismawanti Putri, salah satu warga yang ikut mengantre, mengaku menukarkan uang senilai Rp 2,8 juta untuk dibagikan kepada para keponakannya. Ia memilih berbagai pecahan kecil, kecuali nominal Rp 50 ribu, agar pemberian THR terasa lebih merata dan menarik bagi anak-anak. Adinda menjelaskan bahwa nominal yang diberikan biasanya bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per anak.

Perjuangan Adinda untuk mendapatkan uang baru tersebut tidaklah mudah karena ia harus menunggu selama dua jam di lokasi penukaran. Ia menceritakan bahwa dirinya tiba di Masjid Agung pukul 14.00 WIB dan baru bisa menyelesaikan transaksi pada pukul 16.00 WIB. "Tahun ini lebih susah," ungkapnya yang tetap merasa bersyukur karena akhirnya berhasil mendapatkan uang yang diinginkan meski harus mengantre lama.

Senada dengan Adinda, seorang warga asal Sampung bernama Parjianto juga melakukan penukaran dengan nominal yang lebih besar, yakni mencapai Rp 5,3 juta. Ia menegaskan bahwa seluruh uang tersebut memang dipersiapkan khusus untuk dibagikan kepada anak-anak kecil di lingkungan tempat tinggalnya. Baginya, melihat kegembiraan anak-anak saat menerima uang baru adalah kepuasan tersendiri yang rutin ia lakukan setiap tahun.

Parjianto yang sudah tiba sejak pukul 08.00 WIB merasa bahwa layanan resmi dari Bank Indonesia ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan jasa penukaran uang liar. Ia menilai proses ini lebih transparan dan tidak membebani warga dengan biaya tambahan atau potongan harga yang tinggi seperti di calo. "Lebih enak ini nggak pakai jasa, dulu mendekati lebaran kan lebih mahal," tandasnya mengenai efisiensi layanan tersebut.

Fenomena antrean panjang ini membuktikan bahwa tradisi berbagi kebahagiaan melalui uang baru masih sangat kental di tengah masyarakat Ponorogo. Meski harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengantre, warga tetap menjalaninya dengan penuh semangat demi menjaga kelestarian adat saat hari raya. Penukaran uang secara resmi ini diharapkan dapat terus memfasilitasi kebutuhan warga dalam menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/warga-ponorogo-tukar-uang-lebaran