Aku selalu berpikir kedewasaan adalah hadiah yang datang otomatis seiring bertambahnya usia, seperti kenaikan gaji yang pasti kudapatkan. Dunia di mataku kala itu adalah kanvas yang selalu cerah, tanpa menyadari bahwa badai bisa datang tanpa peringatan, merobek kenyamanan yang selama ini kujadikan perisai. Aku hidup dalam gelembung kaca, terlindungi oleh tangan orang tua dan janji-janji masa depan yang mulus.
Pukulan itu datang saat aku paling tidak siap, sebuah konsekuensi pahit dari keteledoran yang kuhabiskan dengan menganggap remeh tanggung jawab. Kesempatan emas untuk melanjutkan studi ke luar negeri, yang telah kukejar bertahun-tahun, lenyap dalam sekejap karena kelalaian administrasi yang sepele. Rasanya seperti didorong dari tebing tinggi; kehilangan itu bukan hanya beasiswa, tapi juga identitasku yang selama ini kubanggakan.
Terpaksa, aku meninggalkan kota yang penuh kenangan dan memilih bekerja serabutan di pinggiran ibu kota, jauh dari tatapan iba teman-teman dan belas kasihan keluarga. Pekerjaan pertamaku adalah sebagai pelayan di sebuah warung makan kecil, tempat aku harus berhadapan dengan asap, keringat, dan tuntutan pelanggan yang tak pernah habis. Ini adalah realitas yang brutal, sebuah pertentangan keras dari kehidupan yang pernah kurasakan.
Setiap hari adalah pelajaran tentang kesabaran yang pahit. Tangan yang dulunya hanya memegang pena dan laptop, kini harus sigap mengangkat piring kotor dan menyeka tumpahan kopi. Aku belajar bahwa uang seribu rupiah pun harus diperjuangkan dengan pengorbanan, bukan hanya sekadar angka yang muncul di rekening. Rasa lelah fisik dan mental mulai mengikis sisa-sisa keangkuhanku.
Malam-malam panjang setelah bekerja, aku sering duduk sendiri, merenungkan betapa dangkalnya pandanganku tentang hidup. Kedewasaan ternyata bukan tentang pencapaian besar atau gelar tinggi, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit kembali setelah terjatuh, sambil tetap menjaga martabat. Aku mulai menghargai proses, bukan hanya hasil akhir.
Di sana, di tengah hiruk pikuk pasar dan aroma masakan yang menyengat, aku bertemu dengan Bu Siti, pemilik warung yang selalu tersenyum meski hidupnya jauh lebih keras dariku. Ia mengajarkanku bahwa kebahagiaan adalah pilihan, dan bahwa setiap kesalahan yang kubuat hanyalah babak baru yang harus diselesaikan. Ia menyebut semua ini sebagai bagian tak terpisahkan dari "Novel kehidupan" yang harus kutulis sendiri.
Perlahan, Aruna yang lama mulai pudar, digantikan oleh sosok yang lebih tangguh, yang tahu bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan. Aku mulai menabung, merencanakan, dan yang terpenting, berhenti menyalahkan masa lalu. Bekas luka kegagalan itu kini bukan lagi aib, melainkan peta jalan yang menunjukkan seberapa jauh aku telah melangkah.
Aku menyadari, jika aku tidak kehilangan segalanya kala itu, aku tidak akan pernah menemukan kekuatan sejati yang tersembunyi di dalam diriku. Pengalaman pahit itu adalah guru terbaik, yang memaksaku tumbuh melampaui batas yang pernah kubayangkan.
Kini, aku berdiri di persimpangan baru, dengan keyakinan yang berbeda. Aku tidak lagi takut jatuh, sebab aku tahu, setiap kali aku tersandung, aku akan menemukan batu pijakan baru. Namun, apakah aku benar-benar siap menghadapi babak selanjutnya, ketika takdir kembali menuntut pengorbanan yang lebih besar dari yang bisa kubayangkan?