PORTAL7.CO.ID - Nottingham Forest memastikan langkah mereka ke babak semifinal Liga Europa setelah menumbangkan FC Porto di Stadion City Ground pada Kamis malam, 16 April 2026. Kemenangan ini menjadi pencapaian bersejarah bagi klub asal Inggris tersebut yang akhirnya kembali merasakan atmosfer semifinal kompetisi Eropa.
Pertandingan krusial ini langsung berubah arah setelah bek tim tamu, Jan Bednarek, menerima kartu merah pada awal laga. Wasit Danny Makkelie mengusir Bednarek di menit kedelapan setelah meninjau VAR akibat pelanggaran keras terhadap penyerang Forest, Chris Wood.
Insiden pengusiran Bednarek tercatat sebagai kartu merah tercepat kedua dalam sejarah partisipasi Porto di kompetisi antarklub Eropa. Catatan ini hampir menyamai rekor kartu merah tercepat milik Hector Herrera yang terjadi pada menit keenam dalam laga tahun 2013 silam.
Memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, Forest langsung menekan dan membuahkan hasil melalui gol Morgan Gibbs-White pada menit ke-12. Gibbs-White berhasil menyambar bola muntah di depan gawang yang menjadi satu-satunya gol penentu dalam laga tersebut.
Di balik euforia kemenangan, Nottingham Forest harus bertanding tanpa gelandang andalan mereka, Elliot Anderson. Pemain berusia 23 tahun tersebut terpaksa absen karena berita duka atas wafatnya sang ibu, Helen, sebagaimana dilansir dari infonasional.com.
"Elliot Anderson tidak tersedia untuk pertandingan malam ini menyusul wafatnya ibunda tercinta, Helen," ujar perwakilan Nottingham Forest.
Pihak manajemen klub menegaskan dukungan penuh bagi Anderson yang telah menjadi pilar penting tim dengan catatan 42 penampilan musim ini. Klub berkomitmen untuk memberikan ruang bagi sang pemain selama masa berkabung yang berat ini.
"Segenap pihak di Nottingham Forest Football Club menyampaikan belasungkawa terdalam kepada Elliot dan keluarganya setelah berita yang sangat menyedihkan ini," kata pihak klub.
Seluruh jajaran tim juga mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Ucapan empati terus mengalir dari berbagai pihak di internal manajemen klub sebagai bentuk solidaritas kepada sang gelandang.