Warga di sekitar aliran Tukad Badung dikejutkan oleh suara nyaring alarm *early warning system* (EWS) pada Selasa (24/2/2026) dini hari. Peringatan dini tersebut aktif tepat pukul 03.00 Wita saat sebagian besar masyarakat masih terlelap. Sinyal bahaya ini muncul setelah ketinggian air menyentuh level 2 atau berada pada status Siaga.
Berdasarkan data teknis, permukaan air sungai tercatat mencapai ketinggian sekitar 116 sentimeter di atas batas normal. Kondisi ini menandakan debit air telah melampaui batas sempadan sungai yang biasanya menjadi zona aman. Meskipun demikian, luapan air dilaporkan belum sampai menyentuh bagian bawah struktur Jembatan Tukad Badung.
Cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi memang mengguyur wilayah Denpasar dalam beberapa hari terakhir secara berturut-turut. Fenomena alam ini menjadi pemicu utama meningkatnya volume air kiriman yang melintasi kawasan jantung kota tersebut. Petugas di lapangan terus bersiaga memantau pergerakan air guna mengantisipasi kemungkinan terburuk bagi warga sekitar.
Kepala Unit Pasar Badung, Komang Sutisna, memberikan penjelasan resmi terkait situasi terkini di lokasi kejadian kepada awak media. Ia memastikan bahwa kondisi di area pasar masih berada dalam kendali penuh petugas keamanan dan pengelola setempat. "Situasi saat ini aman. Debit air sudah menurun," ungkap Komang Sutisna dalam keterangannya.
Meskipun alarm peringatan berbunyi cukup keras di tengah malam, aktivitas jual beli di Pasar Badung terpantau tidak terhenti. Para pedagang tetap menjalankan rutinitas mereka sesuai jadwal operasional tanpa menunjukkan adanya kepanikan yang berarti. "Sejauh ini aman, kegiatan pasar beraktivitas secara normal," tambah Sutisna menegaskan stabilitas kegiatan ekonomi di sana.
Ketahanan para pedagang terhadap ancaman banjir kali ini tidak terlepas dari langkah mitigasi yang telah dilakukan pemerintah sebelumnya. Setelah peristiwa banjir besar pada September lalu, lokasi berjualan mereka telah dipindahkan ke zona yang dinilai lebih tinggi dan aman. Hal inilah yang membuat mereka tidak terdampak langsung oleh kenaikan debit air yang terjadi kali ini.
Hingga saat ini, pengelola pasar dan instansi terkait masih terus melakukan pengawasan ketat terhadap fluktuasi air di Tukad Badung. Status siaga tetap diberlakukan sebagai bentuk kewaspadaan dini bagi seluruh elemen masyarakat yang beraktivitas di bantaran sungai. Warga diharapkan tetap tenang namun selalu sigap merespons setiap sinyal yang dikeluarkan oleh sistem peringatan dini.
Sumber: Infonasional