Suasana malam di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, kini menjadi saksi bisu perjuangan hidup seorang pria paruh baya bernama Irfan Supriyadi. Sosok pria berusia 58 tahun tersebut kini menggantungkan hidupnya dengan menawarkan jasa pijat di trotoar jalan yang ikonik tersebut. Meskipun usianya tak lagi muda, semangatnya dalam mencari nafkah tetap terlihat jelas di tengah keramaian pusat kota.

Irfan biasanya mulai beroperasi menjajakan jasanya selepas waktu Maghrib hingga tengah malam demi melayani para pejalan kaki. Lokasi mangkal utamanya berada di sekitar Jalan Tunjungan 1 serta area depan gerai Optik Seis yang strategis. Kehadirannya di sana menjadi pemandangan yang kontras di antara gemerlap lampu kota dan aktivitas wisata malam Surabaya.

Sebelum banting setir menjadi tukang pijat, Irfan merupakan seorang tenaga pendidik yang memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan. Ia tercatat telah mengabdi sebagai guru honorer selama kurang lebih 27 tahun di salah satu institusi pendidikan di Surabaya. Keputusannya beralih profesi merupakan langkah nyata untuk tetap bertahan hidup setelah masa pengabdiannya sebagai guru berakhir.

Dalam menjalankan profesi barunya ini, Irfan mengaku tidak mematok tarif tetap bagi setiap pelanggan yang menggunakan jasanya. Ia menerapkan sistem pembayaran seikhlasnya sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diterimanya setiap hari. Hal ini ia lakukan agar jasanya dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat tanpa merasa terbebani secara finansial.

Pelanggan yang datang memanfaatkan keahlian memijat Irfan ternyata berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Tidak hanya warga lokal Surabaya, namun beberapa turis mancanegara yang sedang berwisata juga kerap menggunakan jasanya untuk melepas lelah. Interaksi dengan berbagai orang dari berbagai negara ini memberikan warna tersendiri dalam keseharian barunya sebagai penyedia jasa pijat.

Irfan Supriyadi menegaskan identitas dan profesinya saat ini dengan penuh rasa percaya diri kepada setiap pengunjung yang datang. Ia sering kali memperkenalkan diri secara langsung kepada orang-orang yang melintas di sekitar trotoar Jalan Tunjungan tersebut. Konsistensinya dalam menawarkan jasa pijat telah membuatnya mulai dikenal luas oleh para pengunjung tetap di kawasan wisata tersebut.

Kisah Irfan Supriyadi menjadi pengingat akan kerasnya realitas ekonomi yang harus dihadapi oleh para mantan pejuang pendidikan di Indonesia. Perjuangannya di trotoar Tunjungan mencerminkan ketangguhan seorang individu dalam beradaptasi dengan perubahan situasi hidup yang drastis. Meski tidak lagi berdiri di depan kelas, ia tetap memberikan manfaat bagi orang lain melalui kemampuan tangannya.