PORTAL7.CO.ID - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, secara resmi menutup kegiatan Praktek Lapangan Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Gelombang III yang dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Acara penutupan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 29 April 2026, melalui sebuah prosesi apel yang berlangsung di Lapangan Basket Kota Kuala Simpang.

Kehadiran para praja IPDN di wilayah tersebut merupakan bagian integral dari upaya memberikan kontribusi nyata dalam mendukung proses pemulihan di daerah setempat. Mereka ditugaskan untuk membantu pemulihan berbagai sektor, mulai dari perbaikan kantor pemerintahan hingga pemulihan sarana publik yang rusak.

Bima Arya menjelaskan bahwa fokus penugasan para praja telah dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang terstruktur. Pada gelombang pertama, penekanan utama adalah pemulihan infrastruktur yang berkaitan dengan kantor pemerintahan.

Sementara itu, untuk gelombang kedua dan ketiga, para praja dikerahkan untuk fokus memulihkan kondisi permukiman warga serta fasilitas umum yang terdampak oleh situasi sebelumnya. Hal ini menunjukkan skala penugasan yang komprehensif selama masa praktik lapangan mereka.

Wamendagri menilai bahwa selama masa penugasan ini, para praja tidak hanya menjalankan misi sosial semata, tetapi juga menjalani proses penting untuk menempa kapasitas kepemimpinan mereka sebagai calon abdi negara. Pengalaman langsung di lapangan ini menjadi bekal krusial bagi mereka untuk menjadi birokrat yang tangguh di masa mendatang.

"Bumi Aceh Tamiang yang menjadi kawah candradimuka bagi calon para pemimpin birokrasi Indonesia di masa depan yaitu kalian semua," ujar Bima Arya, Wakil Menteri Dalam Negeri.

Bima menekankan bahwa ujian fisik dan mental yang mereka hadapi di Aceh Tamiang merupakan gambaran nyata dari tantangan yang akan menanti ketika mereka telah resmi memegang jabatan di pemerintahan. Ia berpesan agar setiap lulusan mampu menunjukkan adaptabilitas tinggi dalam menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

"Satu bulan ini adalah simulasi. Satu bulan ini adalah uji coba yang tidak seujung kuku dari apa yang akan kalian hadapi di masa depan nanti," tutur Bima Arya, Wakil Menteri Dalam Negeri.

Aspek penting lainnya yang menjadi sorotan adalah kemampuan kerja sama tim dan penyatuan visi di tengah keragaman latar belakang budaya dan agama para praja. Kemampuan menyesuaikan diri terhadap perbedaan ini dinilai sebagai indikator utama seorang pemimpin unggulan yang mampu mengayomi seluruh lapisan masyarakat.