PORTAL7.CO.ID - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono telah mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh peternak dan masyarakat luas mengenai larangan penyembelihan sapi betina yang masih produktif. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjamin stabilitas populasi ternak di Indonesia pada masa mendatang.
Kebijakan ini disampaikan secara langsung oleh Wamentan Sudaryono saat beliau menghadiri acara Kontes Sapi APPSI yang diselenggarakan di Wonosobo, Jawa Tengah. Momen tersebut terjadi pada hari Sabtu, tanggal 25 April 2026, sebagai penegasan prioritas sektor peternakan.
Prioritas utama dari imbauan ini adalah menjaga keberlangsungan sumber daya genetik sapi potong di dalam negeri. Pemotongan sapi betina produktif dianggap sebagai penghambat utama dalam upaya percepatan peningkatan jumlah populasi sapi nasional yang sangat dibutuhkan.
Dilansir dari Detikcom, Sudaryono secara spesifik menekankan jenis ternak mana yang seharusnya menjadi fokus penyembelihan menjelang hari raya kurban. "Menjelang Idul Adha, tolong jangan dipotong sapi betinanya. Yang dipotong adalah sapi pejantannya," kata Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
Alasan mendasar di balik proteksi terhadap sapi betina adalah tingkat ketergantungan Indonesia yang masih tinggi terhadap impor daging dan susu. Ketersediaan populasi sapi hidup domestik saat ini dinilai masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional yang terus mengalami peningkatan permintaan.
Wamentan Sudaryono menjelaskan urgensi mempertahankan populasi betina untuk menekan ketergantungan impor. "Kenapa kita masih impor? Karena populasi sapi hidup kita lebih sedikit dibanding kebutuhan. Maka betinanya harus dijaga," ujar Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
Selain fokus pada populasi, Kementerian Pertanian juga menyoroti pentingnya proteksi kesehatan ternak melalui program vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Biaya vaksinasi dianggap sangat terjangkau jika dibandingkan dengan potensi kerugian ekonomi akibat wabah penyakit.
Sudaryono memberikan perbandingan biaya pencegahan yang sangat minim dibandingkan nilai aset ternak yang dimiliki peternak. "Satu vaksin harganya sekitar Rp 25 ribu. Dibandingkan sapi yang nilainya bisa puluhan hingga ratusan juta, itu sangat kecil," jelas Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
Pihaknya mengharapkan adanya peningkatan kemandirian peternak dalam mengambil langkah-langkah preventif terhadap penyakit ternak. Peternak didorong untuk tidak selalu bergantung sepenuhnya pada bantuan atau intervensi dari pemerintah pusat dalam menjaga kesehatan hewan mereka.