PORTAL7.CO.ID - Wajah pembangunan infrastruktur di Sulawesi Selatan kini tengah menjadi sorotan tajam karena dinilai masih mengalami ketimpangan yang cukup signifikan. Kondisi konektivitas di wilayah ini dianggap belum ideal untuk mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat.

Berdasarkan data yang dilansir dari Detikcom, panjang jalan tol di provinsi ini baru mencapai kisaran 25 kilometer saja. Angka tersebut sangat memprihatinkan karena bahkan belum menyentuh satu persen dari total panjang jalan bebas hambatan yang ada di seluruh Indonesia.

"Persoalan kemacetan di Sulawesi Selatan bukan lagi masalah musiman saat Lebaran, melainkan sudah menjadi beban rutin yang terjadi setiap hari bagi masyarakat," kata Andi Iwan Darmawan Aras pada Sabtu (18/4/2026).

Kepadatan kendaraan yang kronis ini diduga kuat berakar dari keterbatasan akses jalan bebas hambatan yang memadai di wilayah tersebut. Tanpa adanya penambahan jalur yang signifikan, beban jalan nasional yang ada semakin berat dalam menampung arus kendaraan yang terus melonjak setiap tahunnya.

Salah satu titik yang paling krusial adalah ruas jalan nasional Makassar-Parepare yang berfungsi sebagai urat nadi logistik utama di Pulau Sulawesi. Jalur ini memegang peran vital karena menghubungkan berbagai provinsi, mulai dari Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, hingga wilayah utara lainnya.

"Ruas jalan ini telah menjadi titik penyempitan atau bottleneck yang sangat parah bagi kendaraan logistik yang menuju ke arah utara Sulawesi," ujar Andi Iwan Darmawan Aras.

Mirisnya, kapasitas jalan di jalur vital tersebut dilaporkan hampir tidak mengalami perubahan berarti selama lebih dari dua dekade terakhir. Selama 24 tahun, penanganan yang dilakukan pemerintah dinilai hanya sebatas pemeliharaan rutin tanpa ada upaya rekonstruksi menyeluruh untuk memperlebar jalur.

"Langkah preservasi atau sekadar merawat jalan yang sudah ada saat ini tidak lagi mencukupi, sehingga diperlukan rekonstruksi total agar arus kendaraan kembali normal," tegas Andi Iwan Darmawan Aras.

Rendahnya penyerapan anggaran pada beberapa periode sebelumnya juga dituding sebagai salah satu penyebab rencana peningkatan jalan seringkali terhambat. Hal ini mengakibatkan infrastruktur jalan tidak mampu mengimbangi pertumbuhan volume kendaraan, sehingga menciptakan titik-titik kemacetan yang sulit terurai.