PORTAL7.CO.ID - Kementerian Agama (Kemenag) kini sedang giat mematangkan kerangka struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) untuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren. Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pembentukan lembaga baru tersebut oleh Presiden Prabowo Subianto.
Proses penyusunan struktur ini dirancang untuk memastikan bahwa semua kebutuhan fundamental yang dihadapi oleh lembaga pesantren dapat terakomodasi secara komprehensif. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, di Jakarta pada hari Jumat (3/4/2026).
Menurut Thobib Al Asyhar, upaya Kemenag adalah memastikan bahwa tidak ada satu pun kebutuhan vital di lingkungan pesantren yang terlewatkan dalam struktur yang baru ini. Ditjen Pesantren yang akan dibentuk ini diproyeksikan akan fokus pada tiga fungsi utama yang sangat krusial bagi perkembangan pesantren.
Fungsi utama yang menjadi sorotan dalam Ditjen Pesantren tersebut meliputi aspek pendidikan formal dan nonformal, upaya pemberdayaan ekonomi dan sosial, serta peran strategis dalam konteks dakwah keagamaan. Struktur ini diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih terarah.
Dalam rancangan awal yang telah disusun oleh Kemenag, Ditjen Pesantren ini diproyeksikan akan memiliki lima direktorat yang memiliki peran strategis. Kelima direktorat tersebut dirancang sedemikian rupa agar dapat saling melengkapi guna memenuhi kebutuhan riil yang ada di lapangan.
Kelima direktorat yang direncanakan tersebut mencakup Direktorat Pendidikan Muadalah, Diniyah Formal, dan Kajian Kitab Kuning. Selain itu, terdapat juga Direktorat Pendidikan Ma'had Aly, serta Direktorat Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Qur'an.
Dua direktorat lainnya adalah Direktorat Pemberdayaan Pesantren dan Direktorat Pengembangan Dakwah Pesantren, yang menunjukkan fokus menyeluruh pada aspek non-pendidikan seperti ekonomi dan penyebaran nilai. "Kemenag berupaya memastikan tidak ada kebutuhan pesantren yang terlewatkan," ujar Thobib Al Asyhar.
Thobib Al Asyhar juga menekankan bahwa pesantren memiliki potensi besar yang dapat menjadi sumber daya nasional yang signifikan bagi Indonesia. Potensi ini mencakup kontribusi besar dalam bidang pendidikan, sektor ekonomi, pemberdayaan masyarakat, hingga peran dakwah.
Sebagai contoh nyata dari potensi tersebut, ia menyoroti keberhasilan program Beasiswa Santri Berprestasi yang telah berhasil melahirkan banyak lulusan pesantren yang kompeten di berbagai perguruan tinggi umum ternama di Indonesia. "Ia mencontohkan keberhasilan program Beasiswa Santri Berprestasi yang telah menghasilkan lulusan pesantren kompeten di perguruan tinggi umum," kata Thobib.