PORTAL7.CO.ID - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memberikan penjelasan resmi mengenai fenomena penutupan beberapa dealer mobil merek Jepang di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Kamis (16/4/2026). Langkah ini dinilai sebagai bagian dari penyesuaian strategi bisnis untuk memperluas jangkauan pasar ke wilayah lain di Indonesia agar tidak lagi terpusat di Pulau Jawa.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyebutkan bahwa perubahan jaringan ini merupakan hal yang lumrah dalam dinamika industri otomotif nasional. Meskipun terdapat penutupan di beberapa titik, produsen otomotif sebenarnya tengah melakukan ekspansi besar-besaran ke wilayah-wilayah yang sedang berkembang.

"Kami telah mendengar informasi tersebut dan ini sepenuhnya merupakan masalah strategi bisnis, di mana perusahaan memiliki pilihan independen dalam mengelola jaringan mereka," ujar Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum Gaikindo dilansir dari Detik Oto.

Penutupan aset di ibu kota dipandang sebagai langkah mandiri perusahaan untuk mengoptimalkan sumber daya mereka. Kukuh menekankan bahwa sering kali publik hanya fokus pada berita penutupan tanpa melihat adanya pembukaan cabang-cabang baru di daerah lain.

"Publik cenderung lebih memperhatikan berita penutupan dealer, padahal faktanya banyak cabang baru yang mulai dibuka di luar Pulau Jawa sebagai langkah pengembangan pasar yang bersifat independen," tambah Kukuh Kumara.

Berdasarkan data asosiasi, tingkat keterjangkauan atau okupansi dealer di Pulau Jawa saat ini sudah mencapai angka 60 hingga 70 persen. Kapasitas tersebut dianggap sudah sangat memadai untuk melayani kebutuhan konsumen setempat tanpa memerlukan penambahan jaringan secara masif dalam waktu dekat.

"Jumlah jaringan yang ada saat ini sudah cukup untuk melayani pelanggan, karena tingkat jangkauannya sudah berada di angka 60-70 persen dan baru akan ditambah jika sudah menyentuh 90-100 persen," tutur Kukuh Kumara.

Pemerataan pasar otomotif kini mulai bergeser secara signifikan ke wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Hal ini terlihat dari penurunan dominasi pasar di Pulau Jawa yang sebelumnya mencapai 80 persen, kini terkoreksi menjadi sekitar 60 persen.

"Penurunan dominasi pasar di Jawa memberikan kesempatan bagi wilayah lain seperti Sumatera dan Kalimantan untuk tumbuh, sehingga seluruh masyarakat Indonesia memiliki akses yang sama untuk membeli kendaraan," kata Kukuh Kumara.